harassment

Di Jepang ternyata ketat banget tentang pelecehan (harassment). Halah, pikirane pasti sexual harassment ya.. Ternyata ga cuma itu aja lho. Tapi pertama ngomongin sexual harassment dulu deh (kalo disini biasanya disingkat jadi sekuhara; orang Jepang lidahnya rada beda, hehehe…). Aturan tentang sekuhara di Jepang ketat banget, dan sangat menghargai wanita. Menurut buku sih yang termasuk dalam sekuhara adalah (ini aslinya, jadi in English) touching, staring, conversations that make someone uncomfortable, comments about appearance, and unwanted attention. Nah, pegang2 sembarangan bahaya lho, nanti bisa dituduh sekuhara. Jadi, jangan suka mbati ya… Menatap dengan sengaja dalam waktu lama, ngeledek yang nyerempet saru2, dan ngegodain juga masuk dalam sekuhara. Kalo di Indonesia sih banyak yang ngegodain cewe2, tapi jangan berani2 gitu disini, bisa ditangkap polisi lho. Bahkan perhatian yang tidak diinginkan (contohnya ngajakin kencan terus, nelpon2 terus, sama ngasih hadiah terus) juga masuk dalam sekuhara. Lha kalo gini caranya, gimana cowo mau berusaha pantang menyerah buat deketin cewe ya? Salah2 malah ditangkap, hehehe… Ga kok, itu sih tergantung cewenya. Kalo dia ngerasa bahwa usaha yang dilakuin si cowo masih ok2 aja, ya ga dilaporin ke polisi. Hukuman sekuhara di Jepang sangat berat, apalagi kalo ketahuan yg ngelakuin orang asing. Walah, bisa malu buangetttt… Orang2 iseng yang suka grepe2 di KA pasti akan kena hukuman berat kalo ketahuan (so, asal ga ketahuan ya gpp? Haha, no comment ah). Ini sebabnya di KA yang banyak penumpangnya (jalur padat) pasti ada gerbong khusus wanita. Tu, gambarnya liat aja di samping. Kalo ga jelas, diklik aja, nanti kan jadi gede.

Nah, dalam kehidupan kuliah juga ada harassment lain lagi, namanya academic harassment. Mahasiswa sangat diperhatikan haknya di Jepang. Mereka bebas mengekspresikan pemikirannya tanpa takut disalahkan atau ditertawakan. Dosen bukan guru yang bebas meng-goblok-goblok-kan mahasiswa; mereka sangat menghormati hak mahasiswa untuk mengutarakan pendapat. Mempertanyakan integritas seseorang (misalnya menuduh bahwa dia menjiplak tanpa bukti kuat) juga bisa dianggap sebagai harassment. Itulah sebabnya saya bebas memilih tema tesis yang akan dibuat dan memilih alat analisis apa yang akan digunakan. Tema tesis saya sangat sederhana serta tidak memakai ekonometrik (ini sebenarnya gabungan dari ekonomi, statistik, dan matematika; susyeh banget, dan banyak orang yang berpendapat bahwa ekonomi itu ekuivalen dengan ekonometrik, sigh…) sebagai alat analisisnya; dan supervisor saya juga ok2 saja tuh (meskipun entah nanti nilainya dikasih berapa, yang penting lulus ah, hihihi…). Inilah bedanya dengan sistem di Indonesia; dosen kadang enak saja dengan entengnya memaki hasil pemikiran dan laporan tugas mahasiswa tanpa melihat proses bagaimana si mahasiswa berjuang keras untuk mengerjakan tugas itu. Di Jepang, yang dipentingkan adalah prosesnya. Dengan proses yang baik dan berulang, maka hasilnya akan baik. Dan ini yang terjadi pada tesis saya: berulang2 dan ga rampung, huhuhuhu……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: