alien registration, NHI, dan sampah

Ternyata kita dianggap sebagai alien di Jepang. Haha, maksudnya bukan sebagai orang asli sini. Selain berkas universitas, hal yang harus diurus pertama kali adalah alien registration card. Itu adalah kartu tinggal sementara; ngurusnya di City Hall. Waktu pembuatannya sekitar 3 minggu, dan pas ngambil dibilangin: this is your identity while you’re in Japan; please don’t lose it and take it everywhere you go as it is more important than your passport here. Jadi, secara resmi saya adalah warga Jepang untuk sementara, hehehe…. Bagusnya di sini, setiap orang asing otomatis masuk dalam daftar alien di Pemkotnya. Setiap ada event, pasti ditawari untuk ikut. Ada pertukaran budaya, earthquake commemoration, asisten panitia buat lomba lukis anak TK, pokoke macem2 deh. Semua diinformasikan lewat imel dan bisa menghubungi divisi yang ngurusi orang asing kalo kita berminat untuk ikut acara.

Dokumen penting yang lain adalah NHI; national health insurance. Ini adalah polis asuransi kita selama di Jepang. Biayanya sekitar 10rb yen tiap tahun. Fungsinya seperti askes, dan disini berguna sekali karena biaya kesehatan mahalnya minta ampun. Dengan kartu NHI, tagihan yang dibayar hanya 30% dari total biaya penanganan. Seorang teman pernah menggunakannya untuk periksa gigi, dan di akhir bulan datang rekap biaya penanganannya. 30% biaya untuk biaya kesehatan dengan standar Jepang bener2 murah kok (hitungan sini, bukan kurs rupiah lho…).

Di city hall juga diterangin tentang sampah. Ribet, tapi ternyata setelah dilakoni ga juga. Sampah disini dibagi jadi 7 macam: combustible (burnable), plastik, PET bottle (botol minum), logam, botol kaca, barang elektronik, dan barang yang tidak bisa dibakar. Masing2 ada jadwal pengambilan sampahnya, jadi kita harus milah2 sampah sesuai jadwalnya dan dimasukin plastik (plastiknya juga dibedain). Jadwal yang paling sering sih combustible, plastik, dan PET bottle karena ini sampah yang paling banyak. Masukin di plastik yang sesuai peruntukannya, trus taruh di TPS. Nanti diambil deh sama tukang sampah. Tukang sampahnya all in; ya sopir ya tukang ambilin sampah buat dimasukin di truk sampah. Tiap bulan ada jatah plastik sampah dari city hall, kalo kurang bisa beli. Saya liat, ternyata made in Vietnam sama Cina (ternyata plastik sampahnya impor, hehe…). Oia, ini hanya berlaku buat sampah yang kecil. Kalo sampahnya besar, ga boleh dibuang di TPS. Aturannya sih kita harus telpon city hall, nanti dari sana dikirim petugas buat ngangkut sampah gede itu dan kita kena charge. Tapi seringnya sih orang disini ga mau kena charge, jadi mereka buang sampah gede2 di malam hari biar ga ketahuan. Yah, akhirnya kadang di TPS ada meja, futon (satu set isinya kasur jepang sama slimutnya), juga kursi. Buat yang butuh ya ambil aja, biasanya barangnya masih bagus, dan dibuang karena yang punya mau pindah, bukan karena kondisinya tidak layak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: