first time in japan and driving manner

Ah, lama hibernasi ga pernah ngurusi blog karena sibuk (heuheuehu, cari alasan aja). Alhamdulillah saya di Jepang, sekolah lanjutan di Ritsumeikan University. Mo sharing pengalaman ah, sapa tau bisa member sedikit gambaran; sukur-sukur menginspirasi biar bisa nyusul saya ke sini, hehehe…

Pertama datang ke sini, bandara yang dituju adalah Kansai airport, di Osaka, jam 10 waktu Jepang. Langsung deh ngurus2 apato (kos2an, alias apartemen) dan berkas2 pendaftaran universitas yg masih kurang. Rampung sekitar jam 4 sore, hbs maghrib observasi daerah sekitar. Saya tinggal di kota Kusatsu; kota kecil sekitar 30 menit dari Kyoto pake KA. Namanya kota kecil ya cuma sedikit hiburan. Yah, lumayan bisa sedikit ngirit…

Kesan awal di sini, Jepang adalah negara yang bersih. Rapi banget, dan tertib. Infrastruktur bener2 diperhatikan disini. Listrik, air bersih, jalan raya, KA, saluran telepon dan koneksi internet, drainase, semuanya terawat baik. Kondisi bus dan KA juga sangat bagus. Dari luar memang biasa saja, tetapi dalamnya sangat luar biasa.

 

Driving Manner

Disini yang jadi raja adalah pejalan kaki dan pesepeda. Mobil akan mengalah jika ada pejalan kaki akan menyeberang (tentu saja kalo mau nyeberang harus nunggu lampu lalin buat nyeberang hijau dulu). Trotoar sangat lebar, nyaman bagi pejalan kaki dan pesepeda; beda jauh dengan di Indonesia. Kita akan merasa nyaman bila berjalan kaki dan bersepeda di Jepang. Juga, orang Jepang kuat2 lho. Mereka jalannya cepat, juga kuat gowes walaupun nanjak. Anak muda disini hampir semua memakai sepeda, jarang yang memakai mobil, sekaya apapun ortunya. Sippp….

Bus disini juga bagus. Dalamnya rapi, bersih. Berhentinya hanya di halte, tidak di sembarang tempat. Bayarnya juga beda karena tidak ada kondektur. Sopirnya all in: ya sopir, ya tukang bersih2 bus, juga kasir. Cara pembayaran ada dua macam: pake kartu prabayar dan bayar cash. Kalo pake kartu tinggal tempelin ke mesin aja, otomatis deposit kita akan berkurang. Kalo mo pake cash, bayarnya di mesin depan pas kita mo turun. Tapi mesin cuma terima uang pas lho, ga terima kembalian. Trus gimana ni kalo gada kembalian? Tenang saja, ada mesin penukar uang di deket sopir. Masukin aja duitnya, nanti keluar duit receh yang bs kita gunakan buat bayarin bus. Bayarnya berapa sih? Nah, ini beda2, tergantung halte tempat kita naik dan turun. Pas kita naik, ada nomor (menunjukkan halte) yang kt ambil; nanti kita turun di halte yang mana, akan ada tarif sesuai nomor yang kita ambil tadi. Di beberapa kota, tarif busnya flat. Di Kyoto 220 yen sekali naik untuk dewasa, tarif anak setengahnya. Kalo mo sering2 naik bus, bisa beli tiket terusan 500 yen sehari, kalo di Tokyo 600 yen.

Kondisi KA juga bagus. Banget. Bersih, rapi, dan tepat waktu (ini yang penting banget). Bahkan telat 3 menit saja diumumkan. Ada beberapa jenis kereta: local, rapid, special rapid, sama shinkansen (suatu saat pengen nyobain yg ini). Kereta local tu berhenti di setiap stasiun, rapid dan special rapid berhenti di lebih sedikit stasiun. Harga tiketnya sama saja; yang beda hanya frekuensi keberangkatan dan stasiun berhentinya. Lagi, tiketnya otomatis. Belinya di vending machine di stasiun (eki dalam bahasa Jepang). Kalo mo masuk gerbang dimasukin ke dalam mesin, nanti tiketnya akan keluar di seberang gerbang dengan sudah ada bukti berupa lubang kecil. Ambil, trus kalo kita mau keluar dari gerbang stasiun tujuan, masukin tiketnya dan gerbang akan terbuka. Selain vending machine, kita bisa beli tiket KA di kios tiket; ini malah harganya lebih murah. Di bagian pojok kereta biasanya ada priority seat untuk orang tua, ibu menyusui, dan orang yang punya keterbatasan fisik (di bus juga ada priority seat lho). Beberapa KA yang ramai bahkan punya gerbong khusus wanita. Pada jam sibuk, kursi di sekitar pintu keluar-masuk KA otomatis tertutup ke sandaran, sehingga ruang kosong menjadi lebih luas untuk menampung orang yang masuk. KA disini semuanya pakai listrik, jadi tidak begitu berisik. Di daerah padat, jalur KA-nya di atas (flyover), sehingga tidak ada perlintasan sebidang yang kadang bikin macet lalulintas dan bikin kecelakaan di Indonesia. KA menjangkau hampir semua daerah di Jepang termasuk pedalaman. Karena pakai listrik, maju atau mundur tidak ada masalah. Biasanya ada 2 petugas KA: masinis dan kondektur. Masinis tempatnya di bagian depan kereta, duduk, dan tugasnya menjalankan KA. Kondektur ada di bagian belakang; berdiri terus, memberitahukan posisi KA dan stasiun berikutnya lewat speaker, juga memperhatikan pintu ketika KA berhenti. Kalau penumpang sudah masuk/keluar semua, kondektur memberi sinyal pada masinis untuk memberangkatkan KA. Kok saya tau ya? Haha, itu karena saya sering memperhatikan mereka kerja. Asik deh. Sebenarnya KA di Jepang bisa mencapai kecepatan 180 km/jam (kalo ga salah), tetapi kereta local hanya berjalan maksimal 100 km/jam saja. Kalo shinkansen sih bisa sampai 300 km/jam.

Huah, sementara itu dulu deh sharingnya. No pic = hoax, right? Foto2nya dilihat di fb saya saja ya, di https://www.facebook.com/media/set/?set=a.2146369052041.2110072.1030731269&type=3.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: