aura of the place

Seorang guru saya pernah mengatakan bahwa setiap tempat memiliki auranya sendiri. Lho, bukannya hanya makhluk hidup yang memiliki aura? Saya pikir juga begitu –pada awalnya. Dan argumen beliau segera meluncur.

Apa buktinya setiap tempat memiliki auranya sendiri? Buktinya terhampar pada kehidupan sehari-hari kita. Ketika kita bicara secara informal dengan teman atau keluarga di ruang santai, di ruang kantor, ketika duduk bersama di ruang kuliah, atau bahkan di warung, kita tidak merasakan adanya tekanan. Bisa dikatakan bahwa aura ruang-ruang tersebut adalah aura yang bersahabat dan tidak memberikan suatu beban pada kita. Situasinya akan berbeda ketika kita berada di ruangan atasan (meskipun masih satu ruangan di kantor tetapi berbeda bilik), di depan kelas ketika harus mempresentasikan tugas (meskipun ruang kelasnya sama dengan ruangan tempat kita duduk dan berbicara dengan teman satu kelas), atau di hadapan masyarakat ketika harus menjelaskan suatu program kegiatan pemerintah. Ketiga tempat itu memberikan aura yang berbeda; ada tekanan yang kita rasakan dan “paksaan” untuk memberikan kemampuan kita semaksimal mungkin. Juga, meskipun secara fisik tidak ada bedanya antara di tengah ruang kelas dan di depan kelas, tetapi ketika saya berada di depan kelas, serta merta lidah menjadi kelu, keringat mengalir, dan ucapan menjadi terbata-bata. Saya bayangkan, ruang sidang pengadilan, ruang pemeriksaan kejaksaan, dan bahkan penjara pasti memiliki aura yang lebih kelam.

Tetapi, perasaan terhadap aura itu saya rasa tidak bisa disamakan untuk setiap orang. Orang kebanyakan dan awam pastilah merasakan hal yang sama dengan yang saya rasakan pada tempat-tempat tersebut. Tapi bagi beberapa orang, auranya bisa saja berbeda. Aura ruang sidang pengadilan bagi hakim dan jaksa akan memberikan efek yang berbeda dari orang kebanyakan (baca: yang duduk di pengadilan sebagai terdakwa). Begitu juga tempat di muka kelas, bagi dosen atau murid yang suka berbicara, justru memberikan semangat (bukan tekanan) untuk memberikan yang terbaik.

Yang jelas, bagi saya, setiap tempat memiliki auranya sendiri. Dan tempat mana yang paling saya sukai auranya? Simpel dan singkat saja: kamar tidur. Sampeyan pasti juga merasakan hal yang sama dengan saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: