are donor countries really kind?

Kita tahu bahwa Indonesia adalah negara dengan hutang yang banyak. Saking banyaknya, bahkan untuk membayar bunga hutang saja membutuhkan proporsi yang cukup banyak dari APBN. Nah, yang jadi pertanyaan, kenapa kok ada negara donor yang mau memberikan hutang pada Indonesia? Dengan bunga rendah lagi. Apakah mereka benar-benar baik hati ingin membantu kita? Ataukah ada alasan lain di balik semua itu? Dulu saya berpikir bahwa negara donor adalah negara sahabat sejati Indonesia, karena mau membantu pembangunan kita dengan memberikan hutang jangka panjang dengan bunga yang sangat ringan. Sekarang… mungkin (masih) sedikit berpikiran seperti itu, tetapi ternyata ada alasan kenapa mereka mau “memberikan” uangnya pada negara miskin seperti kita dengan syarat yang sangat ringan.

Semuanya berpulang pada keseimbangan perdagangan. Negara di dunia ini dapat dibagi dalam tiga kelas: defisit, seimbang, dan surplus. Yang ideal jelas seimbang, dimana ekspor sama dengan impor. Tapi hal ini sangat jarang, bahkan hampir dikatakan mustahil ada. Selanjutnya negara dengan defisit perdagangan, yang berarti total impornya lebih banyak daripada total ekspor. Ini jelek karena akan membuat cadangan devisi menurun (untuk membayar impor). Bila hal ini terjadi maka kita tidak akan punya cukup dana untuk melakukan backup terhadap pergerakan rupiah, sehingga rupiah menjadi relatif lebih rentan terhadap spekulasi. Ingat krisis tahun 1998? Itu terjadi karena jatuhnya nilai rupiah yang pada akhirnya mengakibatkan bencana di Indonesia. Di sisi lain, surplus perdangan juga jelek. Lho, kok bisa? Ya, karena dengan surplus perdagangan, maka kita akan memiliki uang lebih. Hal ini akan memicu inflasi yang akhirnya akan membuat masyarakat kehilangan daya beli.

Jadi, masa’ tidak ada hal yang baik? Sebenarnya ada, yaitu surplus. Defisit perdagangan akan membuat semua pihak menderita, tetapi surplus akan menjadi hal yang baik, dengan syarat bahwa kelebihan uang yang diperoleh dari surplus tersebut tidak dibawa masuk ke dalam negeri. Negara besar dan berbasis industri cenderung mengalami surplus perdagangan, seperti Jepang, AS, Jerman, dan Cina. Mereka tidak mau memasukkan uang hasil surplus perdagangan tersebut ke negara mereka. So, ada dua pilihan: disimpan atau dipinjamkan. Opsi pertama, disimpan, jelas tidak menguntungkan. Tidak seperti kita yang mendapatkan bunga ketika menyimpan uang di bank, penyimpanan uang oleh suatu negara di bank (biasanya Swiss karena merupakan negara netral) tidak mendapat bunga, dan justru diharuskan membayar biaya administrasi. Thus, opsi kedua akan menjadi pilihan yang sangat baik. Uang hasil surplus akan mendapat bunga (meskipun dalam jangka waktu lama, tetapi ini tetap lebih menguntungkan dibandingkan dengan membayar biaya administrasi), perekonomian di negara yang dipinjami akan bergerak (dan ini akan mendorong semakin berkembangnya perdagangan antara negara donor dan kreditor, dengan kecenderungan perdagangan tentu saja akan surplus pada negara donor), negara donor akan mendapat nama baik (karena dianggap sebagai negara yang murah hati), dan negara donor akan memiliki posisi tawar yang lebih tinggi daripada negara kreditor (mungkin bisa ditukar dengan voting dalam Sidang Umum PBB, syarat-syarat penggunaan pinjaman yang harus sesuai dengan keinginan negara donor, prioritas dalam pemberian kontrak pengelolaan sumberdaya alam, atau entah apa keinginan negara donor).

1 Comment

  1. tay said,

    December 2, 2010 at 13:58

    selalau ada udang dibalik gimbal😉

    jadi inget ucapan seorang ekonom, “ayo kita kemplang utang LN” hehehe…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: