PMS dan prosesi menikah yang melelahkan

Beberapa hari yang lalu saya menderita PMS. Bukan penyakit menular seksual, bukan juga pre mnestruation syndrome, tapi pre marriage syndrome (saya lebih suka menyebutnya dengan nama itu). Suatu kondisi yang sangat-sangat ribet, yang membuat saya kehilangan pikiran jernih.

Ok, mulai dari awal saja. Saya menikah 23 September 2010 kemarin (alhamdulillah). Sekitar 3 bulan sebelum tanggal itu, PMS mulai menyerang. Mencari seserahan untuk istri, ngurus surat nikah, mencari pengadeg (barang yang diberikan dari pihak istri ke suami), memilih baju untuk acara nikah, membuat undangan, dan urusan tetek bengek lain yang benar-benar menyita waktu. Tingkat stress saya memuncak 3 hari sebelum hari H. Pada H-2 saya bahkan harus berangkat kuliah perdana di postgraduate saya di Jogja. Sorenya, saya pulang ke kampung dan sampai rumah pada malam hari. Paginya langsung ke kantor untuk meminjam mobil (karena saya tidak memiliki mobil), dan siang berangkat ke tempat calon istri di luar kota.

Saking sibuknya, barang yang paling penting hampir saja tidak terbawa: mas kawin. Untung saja sebelum berangkat dicek ulang, sehingga tidak ketinggalan. Sesampai di sana, acara dimulai setelah isya yaitu menyerahkan seserahan (barang yang diberikan pada istri sebagai simbol bahwa mempelai pria serius dan mampu untuk memberi nafkah pada mempelai wanita). Kekacauan kedua pun muncul. Saya tidak membawa baju batik (walah, ini sudah keterlaluan; saya akui itu), kaos dalam, sepatu, dan kaos kaki. Baju yang saya bawa adalah baju biasa, dan barang di atas yang lain justru tidak saya bawa. Rasanya sudah panik banget; meskipun hawa di sana dingin, tapi keringat saya mengalir deras. Untung saja adik saya membawa dua stel batik, sehingga bisa saya pinjam (bahkan termasuk kaos dalamnya juga). Sepatu dan kaos kaki saya ambil dari pengadeg yang seharusnya diserahkan sebagai ganti seserahan yang saya berikan pada mempelai wanita. Fiuh, satu masalah selesai. Untung saja acara berjalan dengan lancar; thanx to my brother.

Besoknya, acara ijab qabul. Pagi-pagi saya dipanggil calon mertua untuk membahas bagaimana ucapan ijab qabul akan diujarkan. Hanya memiliki waktu sekitar satu jam, saya mati-matian menghafalnya. Untung saja pada waktu ijab qabul, saya bisa lancar mengucapkannya. YESS..!!!

Acara dilanjutkan dengan seremonial. Ini yang membuat saya sangat lelah. Adat jawa memang membuat capek. Setelah menggunakan pakaian stelan jas resmi saat ijab qabul, acara seremonial menggunakan pakaian adat jawa. Yang membuat sedikit sebal adalah saya harus tiga kali berganti pakaian. Alasannya? Ya karena paket pengantin di sana memang seperti itu. Ah, alasan yang aneh. Juga, waktu harus melangsungkan adat secara lengkap: ada begalan (cerita semi-ketoprak yang menggambarkan hak dan kewajiban suami istri yang memakan waktu hampir 30 menit), saling melempar suruh, menginjak telur mentah dan alasnya hingga hancur (kemudian kaki dibersihkan istri), sungkeman (pada orang tua dan dari istri pada suami), saling menyuapi, dan memperebutkan ayam matang (saling menarik ayam yang sudah digoreng; dan saya mendapat bagian yang sangat besar, sedangkan istri hanya mendapat satu bagian paha ayam, hahaha…). Alasan kenapa harus memakai adat lengkap? Karena kami berdua sama-sama anak pertama. Ah, alasan yang kurang masuk akal (dan kurang ilmiah) bagi saya. Benar-benar melelahkan dan menjadikan tertekan. Untungnya prosesi ijab qabul sudah terlaksana, sehingga hati saya bisa sedikit tenang.

Setelah maghrib, kesibukan bahkan bertambah. Acara resmi pada undangan adalah jam 2 sampai jam 4 sore, tetapi hampir semua tamu hadir setelah maghrib. Pengantin harus duduk menyambut tamu dan bersalaman (tentu saja harus berkali-kali berdiri dan duduk untuk menyambut). Membuat kaki menjadi pegal dan bahkan tidak sempat untuk makan.

Besoknya, pengantin (yang harusnya menjadi raja dan ratu) malah harus membersihkan sampah yang tersisa dari pesta semalam. Untung saja sampah yang ada sudah dikumpulkan dalam beberapa gundukan, sehingga kami tidak perlu menyapu. Sayangnya, karena malam sebelumnya hujan, maka sampah menjadi tercampur air dan menjadi jorok serta bau. Yah, risiko pengantin, akhirnya kami harus bekerja keras hingga siang. Malamnya baru kami bisa beristirahat dengan nyaman, dan besok paginya kembali ke kampung saya.

Ternyata menikah bukan perkara gampang…

1 Comment

  1. masmpep said,

    October 27, 2010 at 09:11

    Meski menikah tak gampang, tapi kita hanya boleh menikah sekali aja. jangan ketagihan ya mas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: