bangsa yang ramah, benarkah? tidak, dan ini adalah salahsatu alat yang menjadikannya tidak ramah

Banyak orang Indonesia mengaku sebagai orang yang ramah, dan mengatakan bahwa bangsa ini adalah bangsa yang ramah. Bahkan, kita begitu membanggakan keramahan kita ke seluruh dunia. Murah senyum, tulus membantu, dan semua bentuk keramahan lain yang menjadi keunggulan komparatif kita dibanding bangsa lain yang sering kita hakimi sebagai bangsa yang individualistis. Tetapi, apakah keramahan yang kita banggakan itu benar-benar ada? Ah, saya sedikit ragu mengenai hal itu. Bukan apa-apa, tetapi ini adalah pengalaman pribadi saya yang sudah sangat jarang sekali menemukan keramahan yang saya rindukan.

Tentu saja, saya tidak ingin men-generalisir pendapat itu. Yang saya maksudkan, ada dua jenis kecenderungan bangsa Indonesia; untuk ramah dan untuk menjadi “ganas”.IMHO, pada dasarnya bangsa ini ramah. Sangat ramah. Tetapi, ada beberapa hal yang menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang kehilangan keramahannya dalam sekejap. Yup, hanya dalam sekejap, dan hospitality itu menguap entah kemana.

Jadi, hal apa yang memiliki kandungan jahat tersebut, yang bahkan dapat mempengaruhi orang banyak secara masif? KENDARAAN. Ini yang saya maksud sebagai alat yang dapat mengubah kepribadian kita secara drastis, dan “kendaraan” di sini adalah kendaraan yang digunakan di jalan raya.

Entah kenapa, manusia Indonesia yang pada dasarnya adalah orang yang sangat ramah dan tulus, bisa berubah menjadi orang yang sangat egois dan tidak peduli pada orang lain pada saat berada di atas kendaraan; entah itu mengendarainya sendiri ataupun menumpang di kendaraan umum. Baik, saya beri contoh gampang. Pengendara sepeda motor adalah pengendara paling ugal-ugalan di negara ini. Saya tidak asal ngomong, karena saya adalah pengendara sepeda motor, dan “saingan” saya di jalan juga adalah pengendara sepeda motor lain. Saya di Jogja sekarang, dan orang Jogja yang katanya ramah ternyata juga menakutkan dalam menyetir sepeda motor. Kencang, egois, menyalip sembarangan. Mungin bukan orang Jogja asli yang melakukan itu karena Jogja merupakan melting pot dari banyak suku bangsa di Indonesia, tetapi ini benar-benar terjadi di Jogja. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi di Jakarta yang sangat padat. Bahkan jalur busway juga diterobos oleh pengendara sepeda motor; sangat berbahaya dan sangat egois karena menghalangi jalur kendaraan umum.

Contoh lain, pengemudi becak. Ini contoh klasik dimana meraka tidak mematuhi peraturan lalulintas. Menerobos lampu merah, belok seenaknya tanpa memberi tanda, dan ngetem hingga memakan setengah bahu jalan. Kadang saya curiga, mungkin mereka ingin “dicium” oleh kendaraan kita agar dapat memperoleh ganti rugi. Ah, tapi semoga ini hanya prasangka buruk saya saja yang tidak berdasar. Contoh ketiga, pengemudi angkot dan bus. Ngebut sembarangan karena kejar setoran, berhenti di sembarang tempat, ngetem di bahu jalan adalah beberapa bukti keegoisan mereka. Banyak kecelakaan yang terjadi karena mereka ngebut tanpa melihat kondisi jalan. Yang rugi, lagi-lagi, adalah pengguna jalan atau penumpang kendaraan umum yang mereka naiki. Contoh keempat, pengemudi angkutan barang. Saat muatan mereka banyak dan –karena itu– mobilnya berat, mereka adalah pengemudi yang ramah dan banyak mengalah. Tetapi pada saat muatan kosong, mereka cenderung berubah menjadi monster yang memiliki kecepatan tinggi, tanpa mengingat bahwa tonase dan badan kendaraan mereka adalah jenis kendaraan berat. Juga, jangan dikira bahwa pemilik mobil pribadi tidak egois. Banyak yang tidak mau mengalah pada orang lain. Mana buktinya? Mungkin itu pertanyaan yang perlu dijawab. Gampang, buktinya adalah kemacetan, terutama di persimpangan saat lampu lalulintas mati, atau saat lajur jalan menjadi satu arah karena beberapa hal. Beberapa pengemudi cenderung mengambil hak pengemudi lain (baca: lajur) sehingga terjadi kemacetan. Contoh yang terakhir, saat ini penumpang kendaraan umum bahkan juga cenderung sangat egois. Sering kita temui di kendaraan umum seorang ibu tua yang tidak mendapat tempat duduk, dan disampingnya ada anak muda yang (pura-pura) tidur, atau bahkan terang-terangan tidak mau memberikan tempat duduknya. Saya pribadi, bila ada mbak-mbak atau perempuan muda yang tidak mendapat kursi, mungkin juga tidak akan memberikan tempat duduk saya (bukankah itu sebagian dari emansipasi wanita yang menuntut persamaan hak dan kewajiban, hehehe..) kecuali dia saya kenal; tetapi bila ada wanita tua atau sedang menggendong anak, sebisa mungkin akan saya berikan tempat duduk.

Sayangnya, perubahan sifat ini menular. Sangat menular. Ketika ada seseorang yang bersikap egois dan mendapat keuntungan untuk dirinya pribadi sementara orang lain dirugikan, maka orang lain tersebut menjadi marah dan tidak mau kalah. Akibatnya, dia juga akan menjadi orang egois agar tidak dirugikan. Virus ini akan menular dengan cepat dan mempengaruhi masyarakat. Bukan fisik kita yang dihancurkan, tetapi mental kita yang akan jatuh ke tempat yang sangat hina. Ah, tetapi saya juga tidak punya solusi yang tepat untuk mengubahnya. Mungkin ada yang punya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: