merenungi resolusi

Hari ini adalah 30 Juni 2010, hari yang memisahkan setengah tahun perjalanan di 2010. Saya jadi ingin sedikit mellow, merenungi resolusi saya di tahun ini; mana yang sudah tercapai, mana yang dalam perjalanan, dan mana yang bahkan belum dimulai.

Saya punya tiga resolusi tahun ini; sekolah, menikah, dan rumah. Cukup simpel, dan wajar bagi orang yang sudah seumur saya. Hanya saja, perlu perjuangan besar (terutama biaya) untuk mewujudkan ketiganya. Pertama, sekolah. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan untuk sekolah lagi dengan biaya dari Bappenas. Apalagi statusnya double-degree; satu tahun di Jogja dan satu tahun di Jepang. Jurusan yang saya ambil juga sesuai dengan aplikasi yang saya kirimkan. Memang belum tentu saya nanti bisa berangkat ke Jepang karena masih ada tahap wawancara dengan profesor dari universitas Jepang, tetapi setidaknya saya sudah punya tiket untuk melanjutkan studi di Jogja selama 18 bulan. Kalau bukan karena dibayari, tidak akan pernah terpikirkan untuk sekolah lagi. Anyway, latar belakang saya untuk jadi birokrat salahsatunya juga dilandasi keinginan untuk itu, karena kesempatan beasiswa untuk birokrat jauh lebih banyak daripada untuk pegawai swasta. Dan karena negara sudah mempergunakan tenaga saya dengan biaya yang relatif rendah, sekarang saatnya saya mendapat biaya dari negara untuk meningkatkan pengetahuan. Simbiosis mutualisme (benarkah?).

Kedua, menikah. Insya Allah saya akan menikah tahun ini. Sudah sekitar dua tahun saya menjalin hubungan, dan saatnya menuju ke jenjang yang lebih serius. Sebagian besar teman saya bahkan sudah melalui tahap ini. Yang menjadi masalah adalah tanggal. Posisi saya sedang sekolah di luar kota, sedangkan calon istri saya adalah pegawai yang sulit mendapat ijin atasan. Jadi, kami kesulitan untuk menentukan tanggal, kapan waktu yang terbaik. Semoga saja semua lancar dan baik untuk semua pihak, serta tidak menghabiskan begitu banyak biaya.

Yang ketiga, rumah. Membeli rumah benar-benar mahal. Obsesi yang harus dipenuhi, dan tentu saja membutuhkan banyak uang. Di kampung saya, harga rumah tipe 45 dengan luas tanah 100 meter persegi di bekas sawah adalah sekitar seratus juta rupiah, cash. Bila diangsur 20 tahun, angsurannya sekitar 900 ribu sebulan, hampir setengah gaji saya sebagai birokrat. Mahal, tetapi suatu keharusan. Ini resolusi yang tidak mengikat, karena merupakan obsesi jangka panjang. Tetapi, suatu saat saya pasti akan mempunyainya.

Bagaimana dengan resolusi Anda tahun ini?

5 Comments

  1. June 30, 2010 at 18:37

    hebat.. bisa dapat beasiswa untuk ke Jepang
    kapan ya bisa ke Jepang juga???

  2. semuayanggurih said,

    July 3, 2010 at 17:32

    @berita jepang: belum pasti pak, masih ada tes wawancara, entah nanti bisa atau tidak. ini juga bappenas yang mbayari, jadi benar2 sebuah keberuntungan bagi saya

  3. masmpep said,

    July 7, 2010 at 09:59

    Semoga terwujud semuanya mas. Pelan-pelan. Satu-satu.

  4. tay said,

    July 21, 2010 at 12:57

    sob, jangan ngandelin gaji. cari sampingan/rejeki lain yg halal. ato mau ikut ternak sapi kayak aku?😉

  5. semuayanggurih said,

    July 22, 2010 at 21:44

    minat mas, tapi itu bukan prioritasku sekarang, budget dah habis buat yang lain, ntar kalo ada rejeki sy kontak njenengan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: