lebih baik sakit gigi daripada sakit hati (?)

Ah, itu sih kata penyanyi dangdut. Kenyataannya? Buat saya, sakit gigi adalah sakit yang sangat traumatis. Banyak pengalaman buruk saya berkaitan dengan si gigi ini (dan juga dokter gigi tentunya). Rasanya profesi yang paling saya takuti dalam kondisi normal ya dokter gigi deh (hehe.. maaf ya dok, tapi sampeyan bener-bener membuat saya takut).

Pengalaman buruk pertama datang pada saat saya masih SD. Ada acara periksa gigi di sekolah. Hasilnya, saya dianggap sehat. Tapi, itu hanya tipuan (baca: salah hasil). Seminggu setelahnya keuar pengumuman baru bahwa gigi saya parah, dan harus diobati. Akhirnya dengan teman-teman yang senasib, saya pergi ke puskesmas. Jalan kaki, dan pada jam sekolah (lumayan, bisa buat refreshing a.k.a mbolos kelas). Sayangnya niat refreshing itu ternyata tidak kesampaian. Puskesmas ternyata kejam…!!! Gigi saya dicabut dengan brutal di sana. Dengan cara yang sangat sederhana, dan (kalo dipikir-pikir sekarang) kurang elegan. Masa’ biusnya hanya pakai cairan-entah-apa-namanya yang begitu ditempelin ke gigi dan gusi rasanya dingin banget dan membuat mati rasa. Setelah mak-nyesss… eh lha kok tiba-tiba ada tang diambil, trus buat nyabut gigi saya. Jujur saja, kaget banget waktu itu, dan masih teringat sampai sekarang. Anehnya, tidak begitu sakit rasanya. Mungkin karena masih gigi susu, jadi masih mudah dicabut. Ya sudahlah, ompong sebentar, tapi masih bisa tumbuh lagi kok.

Pengalaman buruk kedua terjadi saat saya SMA. Dasar payah, saya tidak belajar dari pengalaman waktu SD yang memberikan bukti bahwa berurusan dengan dokter gigi adalah identik dengan rasa sakit. Gigi saya masih jelek, dan ada lubangnya. Karena mengganggu, akhirnya saya beranikan diri ke dokter gigi. Kali ini bukan di puskesmas lagi, tapi dokter gigi swasta yang katanya paling bagus di kampung saya. Ibu saya sering promosi, “Gak sakit kok Di, dokternya baik…”. Setelah antri lama, masuklah saya ke dalam ruang perawatan dan duduk di kursi panas. Peralatannya jauh lebih canggih daripada puskesmas. Biusnya saja pakai alat khusus kaya’ suntikan yang bisa memasukkan obat ke gusi dengan sedikit demi sedikit. Tapi sama saja: SAKIT…!!! Pas pertama rasanya sudah nylekit, seperti disuntik waktu sunat. Tambah lama harusnya kan tambah gak sakit karena obatnya sudah masuk, tapi ternyata obatnya tidak langsung bereaksi. Rasanya sudah mau nangis saja waktu itu. Tapi gengsi juga, masa’ anak SMA masih nangis. So, terpaksa saya tahan rasa sakitnya, tapi tetap saja keluar airmata sedikit. Akhirnya gigi saya ditambal. Dua buah, geraham kiri bawah dan geraham kanan atas.

Pengalaman buruk yang ketiga: waktu saya kuliah. Wah, jelek bener waktu itu. Sakit gigi memang tidak bisa diperkirakan datangnya. Apesnya saya, tu sakit lha kok datangnya pas waktu ujian. Dan ujiannya wawancara! Waduh, padahal kondisi pipi saya sudah bengkak sebelah (yang sebelah kanan, geraham atas), dan terpaksa saya ujian dengan kondisi yang menyedihkan. Masih ingat ni, mata kuliahnya perencanaan tapak dan materi ujiannya disuruh nerangin rencana siteplan yang dibuat. Arrrghhh…. Akhirnya, ujian dengan pipi bengkak memang tidak berhasil. Sudah jadi pusat perhatian, tadi malam gak belajar (karena rasanya sakit banget tu gigi), waktu njawab gak bisa mikir karena nahan sakit, juga buat ngomong jadi aneh karena gusi yang bengkak. Dosen pengujinya saja sampai nanyain kenapa bengkak. Wah, pasrah deh nilainya, dan ternyata memang jeblok. Apes…

Ya sudah, terpaksa harus diobati. Pulang kampung deh, dan pergi ke rumah sakit. Ternyata hasilnya juga menakutkan. Kata dokternya, giginya tidak bisa tertolong lagi. Sudah terlalu parah, dan ini bengkak yang berisi nanah karena ada infeksi. Walah, apaan lagi ni, bikin tambah shock saja. Intinya sih, harus dicabut. Tapi tidak bisa langsung dicabut, karena infeksinya harus disembuhkan dulu. Tindakan pertama, ngebersihin nanah. Jadilah gusi saya disobek buat ngebersihin nanah. Sakit….!!! (lagi). Itu belum selesai, karena problem utamanya adalah gigi yang terinfeksi. Yah, jadi disuruh bolak-balik 3 kali lagi buat perawatan, habis itu baru dicabut. Sudah kuatir duluan ni rasanya, dan akhirnya memang terbukti.

Waktu mau dicabut, setelah dibius, ternyata sulit banget nyabutnya. Ada 2 orang yang menangani gigi saya: dokter gigi bersama asistennya. Pertama dokter giginya. Tidak sanggup, lalu minta tolong asisten buat megangin kepala saya, dan dokternya nyabut pake tang. Gila bener, mulut saya harus terbuka terus, kepala dipegangi biar tidak gerak-gerak, dan gigi saya diungkit-ungkit pakai tang. Ke kiri, kanan, bawah, tetap nggak bisa. Saya keringetan, dokter gigi sama asistennya juga sudah keringetan banget. Akhirnya, tu dokter minta saya di-rontgen. Duh, apaan lagi, masa mau cabut gigi saja pakai di-rontgen segala. Terus kalau harus opname gara-gara gigi bermasalah kan nggak elit banget rasanya. Dan ternyata, rontgen itu buat ngeliatin posisi akar gigi, biar nyabutnya gampang. Jadilah saya di-rontgen. Ketahuan akarnya, dan proses meng-ogrek-ogrek gigi saya dimulai lagi. Tapi masalah belum selesai. Waktu proses nyabut gigi, biusnya sudah mulai hilang. Rasa sakitnya sudah terasa. Gawat. Untung proses yang kedua ini tidak begitu lama karena akarnya sudah kelihatan. Setelah dicabut, gigi yang tanggal dilihatin ke saya. Ternyata yang bikin sulit, karena ada akar tambahan. Ini mekanisme pertahanan diri ketika gigi kena infeksi, sehingga yang diserang penyakit adalah akar tambahan, bukan yang asli. Tapi ini yang bikin susah dicabut karena akar giginya jadi tambah satu. Dan yang paling bikin sengsara, saya pulang ke rumah, nyetir motor dengan bius yang sudah habis. Untung aja bisa sampai rumah dengan selamat. Jadi, akhirnya saya ompong satu, geraham atas kanan.

Waktu saya masuk kerja, gigi juga menjadi masalah lagi. Untuk diangkat menjadi pegawai tetap, harus ada pemeriksaan fisik dulu. Gigi menjadi salahsatu item yang harus diperiksa. Dan jadilah saya diperiksa. Kondisi gigi saya memang tidak terlalu bagus, jadi sebelum diperiksa saya bilang ke dokternya bahwa gigi saya ompong satu dan ada yang berlubang satu. Setelah diperiksa, ternyata gigi yang berlubang sudah mrembet ke sebelahnya, jadi ada dua yang berlubang. Ah, menyebalkan. Sebenarnya dulu sudah pernah saya tambal, tapi tambalannya lepas. Mau saya tambal lagi, takut. Masih trauma, dan rasanya sampai tua nanti saya tetap tidak akan mau ke dokter gigi. Untungnya tes kesehatan itu tidak mensyaratkan untuk menambal gigi yang berlubang. Jadi amanlah saya karena tidak perlu bertemu dokter gigi lagi. Biarlah gigi saya berlubang. I will deal with that, and live with that as my burden.

2 Comments

  1. teguh dr said,

    September 1, 2010 at 09:30

    Mungkin semua mengalami, mas. Aku pun mengalami “mimpi buruk” itu. Dulu waktu masih kelas 2 SMP, gigi geraham kanan bawahku dicabut. Dan pengaruhnya, antara tidak percaya dan tidak, berangsur mataku menjadi minus. Belum sebulan juga kemarin 2 (DUA) gigi gerahamku juga dicabut kembali. Yang paling “asyik” istilahnya bukan dicabut, melainkan bedah mulut ringan. Nah lo. Cara mengambil giginya kita masuk ruang operasi, pakai baju pasien. 30 menit nunggu dipanggil (baca: eksekusi), kemudian tidur terlentang di meja bedah. Seluruh badan ditutupi kecuali daerah mulut. Praktis tidak bisa melihat dunia luar, hanya bisa mendengar suara2 dokter dan asistennya sedang mengambil gigi. Yang tidak terlupakan, rasanya mencabutnya seperti pakai tang besar. Diongkek-ongkek. Suakite minta ampun. Padahal itu sudah dibius. Setelah itu bekas lubang yag dicabut masih dijahit pula sebanyak 3 jahitan. Sekarang artefak gigi kusimpan

  2. Maya said,

    April 28, 2011 at 06:11

    Terharu ngebacax. . .karna akhrx aq mnemukan tman sperjuangan yg sring bermslah dgn gi2 tpi tkut k doktr gigi, , huahahaha

    emang trauma k dr. gi2 pasti d mulai wktu kcil. . . .alt2x yg menyeramkn dan bunyi msin2 yg mendengung bkin suasana d ruang dr.gi2 jdi horror. . . .
    skarang pi2 q gi bengkak sbelah kyak abiz d tbok org. . .aq hrus k dr. gi2. . .hikz

    do’akn aq sukses. . . .


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: