bahasa tersirat

Ternyata bahasa Jawa banyak arti tersiratnya. Saya nemuin satu yang baru, beberapa waktu yang lalu. Kata “cangkem”; ternyata merupakan akronim dari “yen ora dicancang ora mingkem” – atau sebenarnya kata itu justru bukanlah akronim tapi hasil dari utak atik gathuk? Entahlah mana yang benar, tapi kearifan lokal seperti itu memang memberikan petunjuk bagi kita untuk selalu bersikap arif. Yup, arti kata di atas adalah “bila tidak dikendalikan maka tidak bisa diam”. Seperti kata pepatah, mulutmu adalah harimaumu.

Bicara tentang bahasa, saya –sebagai orang Tegal—sangat bangga dengan bahasa asli saya, terutama setelah mengetahui beberapa hal tentang bahasa asli saya tersebut dari artikel di media. Bahasa Tegal ternyata merupakan bahasa asli turunan dari bahasa sansekerta –bukan bahasa Jawa keraton. Bahasa itu merupakan bahasa rakyat jelata, mengagungkan egaliterianisme dan kesejajaran posisi manusia, tanpa pembedaan derajat. Hal ini berlawanan dengan bahasa Jawa yang dikeluarkan oleh Keraton, yang mempunyai beberapa tingkatan dari ngoko, ngoko alus, krama, krama alus, sampai krama inggil (bayangkan aja, kata “inyong” dalam bahasa Tegal yang artinya saya, bisa berubah menjadi aku, dalem, kawulo, dan ingsun menurut bahasa Jawa Keraton, padahal artinya sama, hohoho…). Sepertinya sih bahasa ini sengaja dikeluarkan (diciptakan) untuk melegitimasi kekuasaan raja-raja Jawa. Setiap orang yang bertemu dengan raja diharuskan mempergunakan bahasa krama inggil. Dengan demikian, raja merupakan pejabat dengan hirarki tertinggi yang dihormati semua orang. Ini berlawanan dengan bahasa Tegal yang menganggap semua orang mempunyai derajat yang sama. Bahasa yang dipergunakan untuk berbincang otomatis juga sama, walaupun itu kepada jongos ataupun kepada raja. Hal ini membuat Keraton merasa kurang nyaman, sehingga mengeluarkan kebijakan bahwa bahasa Tegal merupakan bahasa yang kurang sopan. Menurut saya, sopan atau kurang sopan bahasa tersebut seyogyanya dilihat dalam konteks penggunaannya dan disesuaikan dengan ruang waktunya. Bukannya saya tidak suka bahasa Jawa keraton (di rumah ataupun bila bicara dengan orang yang lebih tua, saya menggunakan bahasa krama dan krama alus), tetapi saya khawatir bila bahasa Tegal pada akhirnya akan punah karena tidak ada yang mempergunakannya (tentu saja, karena dianggap kurang sopan). Contoh kecil, dalam pelajaran bahasa Jawa di sekolah dulu, yang diajarkan adalah bahasa Jawa versi Keraton, bukan bahasa lokal. Bila saya bicara dengan orang yang lebih tua dan mempergunakan bahasa Tegal, saya juga ditegur karena dianggap tidak sopan (padahal belum tentu yang diajak bicara keberatan); akibatnya saya hampir tidak pernah menggunakan bahasa Tegal untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua. Yang membuat sedih, seringkali orang malu untuk menggunakan bahasa Tegal karena dianggap medok, kampungan, dan merupakan bahasa (maaf) babu, bukan bahasa yang dipergunakan elite. Sampai sekarang, perbendaharaan kata bahasa Tegal saya juga belum begitu luar biasa. Kata-kata bahasa Tegal pada daerah yang berada di pesisir dan di daerah tengah juga memiliki perbedaan. Hanya sedikit sebenarnya, tetapi inti dari bahasa Tegal yaitu kesetaraan masih menjadi jiwa utamanya. Jadi, saya lebih suka menggunakan bahasa Tegal dalam bicara dengan orang yang seumuran dan sudah akrab, tetapi dalam bicara dengan orang yang jauh lebih tua dan belum akrab (dan tentu saja dengan orang yang tidak mengerti bahasa Tegal), saya lebih suka menggunakan bahasa Jawa versi Keraton atau Bahasa Indonesia. Saya juga bersyukur dan bangga dengan bahasa Tegal, sama juga dengan kebanggaan saya sebagai orang Tegal.

1 Comment

  1. masmpep said,

    December 2, 2009 at 10:16

    bahasa ngapak (sebenarnya yang menyebut ngapak bukan orang tegal, tetapi kraton) memang bahasa yang lebih ‘asli’ dari bahasa kraton. bahkan kabarnya di dalam kraton sendiri bahasa yang digunakan adalah bahasa…. (aku lali) yang mirip bahasa ngapak. jadi bahasa krama justru tak di pakai di lingkungan dalam kraton.

    jadi berbahagialah berbahasa tegalan. okelah kalo begitu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: