bse

Alias buku sekolah elektronik. Sebenarnya ini kebijakan dari pemerintah pusat yang sangat baik. Sayangnya, karena kurang didukung oleh pemerintah daerah, hasilnya justru cenderung sia-sia dan tetap menimbulkan biaya ekternalitas yang seharusnya bisa ditekan (yup, iklan sekolah gratis ada di mana-mana hanya sekedar utopia saja).

Saya hanya bisa berandai-andai. Anggaran pendidikan kan sekarang besar, 20% dari total anggaran. Hanya saja, penggunaannya masih “jorok”, belum menikam pada permasalahan. Sebagai contoh, banyak yang justru digunakan untuk honor pegawai dan pembelian kendaraan dinas. Lah, memangnya yang harus dicerdaskan tu pegawai apa muridnya?

Akan lebih baik bila anggaran yang “tersisa” itu digunakan untuk mencetak buku sekolah elektronik. Buku hasil cetakan itu lalu dibagikan (baca: dipinjamkan) pada anak didik melalui sekolah sebagai buku paket resmi untuk kurikulum pengajaran. Di akhir tahun, buku dikembalikan ke sekolah untuk dipergunakan oleh anak didik yang naik kelas. Pasti banyak biaya eksternalitas yang bisa dihemat. Pemerintah memang mengeluarkan biaya yang besar untuk mencetak ribuan buku, tetapi itu akan dapat menyelamatkan perekonomian orangtua siswa yang sudah banyak dikeluhkan karena mahalnya buku cetak.

Memang diperlukan komitmen yang tulus dari semua pihak untuk mweujudkan mimpi tersebut. Bupati bisa mengeluarkan instruksi bupati untuk mempergunakan buku sekolah elektronik sebagai modul resmi kurikulum (lagian, kualitas isinya juga bisa dipertanggungjawabkan to?). Dinas Pendidikan dapat mengalokasikan dana yang ada untuk mencetak buku sekolah elektronik. Tentu saja tidak dapat semua murid mendapat jatah dalam satu tahun anggaran, tetapi setidaknya ada itikad baik dari dinas dan proses pencetakan bisa dilaksanakan dalam beberapa tahun anggaran. Pihak sekolah dan guru seharusnya juga berkomitmen untuk menggunakan buku sekolah elektronik dalam proses pembelajaran, jangan memaksakan untuk menggunakan buku cetak dari penerbit. Risikonya, memang tidak ada “persenan” (baca: komisi) dari penerbit yang bukunya direkomendasikan oleh sekolah ataupun guru, tetapi bila hal ini sudah menjadi komitmen, maka seharusnya tidak akan ada masalah.

Bila hal ini dapat dilaksanakan, maka biaya eksternalitas untuk bersekolah dapat ditekan, sehingga makin banyak anak usia sekolah yang dapat menikmati bangku pendidikan. Biaya pendidikan menjadi murah, orangtua siswa tidak mengeluh, dan slogan “sekolah gratis ada di mana-mana” akan semakin dekat terwujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: