birokrasi dua muka

Saya sering bingung dengan sikap birokrasi (dengan Bupati/Walikota sebagai pimpinannya), khususnya di lingkup Kabupaten/Kota. Saya sendiri seorang birokrat yang bekerja dalam lingkup kabupaten, dan saya masih bingung bagaimana mengambil sikap menghadapi hal ini. Dalam pandangan saya, birokrasi di Indonesia memiliki loyalitas ganda; pada masyarakat dan pada pemerintah pusat, yang seringkali berseberangan.

Loyalitas pada masyarakat adalah suatu hal yang wajar, karena Bupati dipilih langsung oleh masyarakat sehingga berkewajiban menyejahterakan masyarakatnya. Hanya saja, sering terjadi kekaburan dalam menyebut “masyarakat”; mana yang dituju dengan sebutan itu, jangan-jangan hanya sekelompok kecil orang saja (yang satu ideologi politik ataupun memiliki agenda tersembunyi) yang dinamakan dengan masyarakat. Bila ini yang terjadi (dan sayangnya Bupati adalah jabatan politik, sehingga kemungkinan besar hal ini akan terjadi), maka akan celakalah daerah (yah, seenggaknya sengsara 5 tahun lah). Tapi bila Bupatinya bisa mengayomi seluruh masyarakat (benar-benar seluruh masyarakat secara sebenarnya), maka daerahnya akan maju. Yang perlu dipahami oleh Bupati, setelah dia terpilih maka statusnya adalah milik semua lapisan masyarakat, bukan lagi orang partai ataupun milik golongan tertentu. So, waktu Bibit Waluyo dikomplain karena dianggap tidak maksimal kampanye untuk mendukung salahsatu calon presiden, menurut saya itu hal yang salah. Posisi Bibit adalah gubernur, milik warga Jawa Tengah, bukan milik partai lagi. Idealnya malah gubernur tidak usah ikut kampanye, dan fokus buat ngurusi wong Jawa Tengah saja.

Loyalitas pada pemerintah pusat juga perlu, karena pada dasarnya kebijakan dalam lingkup kabupaten merupakan penjabaran dari kebijakan pusat (rencana kerja pemerintah daerah merupakan jabaran dari rencana kerja pemerintah pusat yang di-mix dengan rencana pembangunan jangka menengah daerah). Bila daerah mbalelo, maka akibatnya negara akan kacau, karena semua asumsi-indikator-makro dan indikator-kinerja-makro akan tidak terpenuhi. Ya gimana mau terpenuhi, lha wong daerahnya tidak nurut sama acuan dari pusat.

Kalau kebijakan pusat dengan daerah sejalan, it’s ok. Yang jadi masalah, bila kebijakan pusat tidak sesuai dengan kebijakan daerah (baca: keinginan dari Bupati). Otonomi daerah yang begitu luas menjadikan bupati seperti raja kecil yang sangat bebas memimpin daerahnya. Sebagai birokrat, seringkali saya merasa bingung untuk merencanakan arah pembangunan daerah secara teknokratik; apakah ikut kebijakan pusat atau ikut keinginan bupati. Bila ikut keinginan pusat, seringkali tidak dianggap pro masyarakat (padahal, seperti saya kemukakan tadi, batasan “masyarakat” masih sangat tidak jelas), dan sangat sulit untuk menolak keinginan Bupati karena birokrasi “harus” ikut keinginan Bupati sebagai kepala daerah. Akibatnya, kebijakan pembangunan akan cenderung egois sesuai selera bupati. Ah, tapi itu kan suudzon saya saja. Bila bupatinya baik, maka kemajuan daerah justru akan sangat bagus dan menjadi trend-setter bagi daerah lainnya. Sebaliknya, bila ikut keinginan bupati, maka kebijakan-pusat-lah yang tidak akan jalan (tentu saja bila bupatinya punya keinginan sendiri yang berlawanan dengan rencana pemerintah pusat). Bila hanya satu daerah saja sih tidak masalah, tetapi bila semua daerah seperti itu, maka negara ini bisa kacau. Semua indikator pembangunan bisa nggak jalan, dan pemerintah bisa gagal dalam memenuhi target indikator yang sudah ditetapkan.

Idealnya, memang kebijakan daerah berjalan seiring dengan kebijakan pemerintah pusat. Tapi bila dua kebijakan itu berlawanan, itu yang membuat saya bingung untuk memilih. Mungkin bila dihadapkan dengan kondisi itu, saya akan memilih untuk loyal pada daerah. Mungkin terdengar egois, tapi sumbangsih-pikiran saya akan jauh lebih berguna dalam konteks mikro, bukan konteks makro. Ah, pusing… Ternyata kerja beneran tu sulit…

2 Comments

  1. suhu-mu said,

    August 4, 2009 at 09:02

    loyal pada suhumu ini saja nak, maka akan kuturunkan semua ilmu PS-ku yang dahsyat itu padamu. oke kan?😀

  2. semuayanggurih said,

    August 5, 2009 at 09:06

    kebalik tu mas. sampeyan kan jarang menang sama aku. kalo pas menang, tu aku kasih karena dah cape denger komplain gak pernah menang, hahaha…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: