sejarah perkembangan kota di jawa

Pernahkah sampeyan memperhatikan perkembangan sejarah kota di Jawa? Kenapa jarak antar kota (yang saya maksud kota di sini adalah kota yang sudah berkembang sejak jaman dulu, yaitu jaman kerajaan Islam dan jaman kita dijajah kumpeni) sebagian besar adalah antara 50-60 kilometer? Itu pendapat seorang teman, dan saya baru ngeh setelah nyoba ngukur lewat google earth jarak antar kota tersebut, thus ternyata pendapatnya benar. Coba aja ukur jarak antara Tegal-Pekalongan-Weleri (yup, kota jaman dulu bukan Kendal)-Semarang-Kudus-Lasem. Ke selatan ada Tegal-Bumiayu-Purwokerto. Ukur juga Semarang-Bawen-Solo; Bawen-Secang-Jogja. Di jalur tengah ada Secang-Parakan-Purwokerto. Jalur selatan ada Solo-Jogja.

So, gimana sih sejarahnya? Dalam pendapat saya, kota tumbuh secara alami. Ada tiga penyebab; pertama adalah karena sebagai tempat persinggahan, dalam artian persimpangan di jalur antara satu kota dengan kota lain. Ini terjadi pada Tegal, Semarang, Bawen, dan Secang. Sebab kedua adalah karena ada pusat pemerintahan (pusat kerajaan atau permukiman tokoh yang sangat dihormati pada jamannya), seperti terlihat pada Semarang, Kudus, Solo, dan Jogja. Ok, itu sudah membentuk suatu jaringan. Tapi, kenapa ada kota-kota lain yang juga ikut berkembang di antara kota-kota tersebut sehingga membentuk suatu jaringan yang utuh, dimana jarak antar kota adalah antara 50-60 km? Ternyata ada sebab ketiga yang menjadikan perkembangan kota akhirnya membentuk suatu jejaring yang utuh.

Simpel saja, jarak antara 50-60 km adalah jarak optimal seekor kuda untuk berlari. Lho, apa hubungannya kota dengan kuda? Pada awal perkembangan kota, jelas ada hubungannya, dan sangat erat. Setiap 50-60 km, seekor kuda akan beristirahat (atau diganti oleh kuda lain yang lebih segar). Tempat peristirahatan itu otomatis akan berkembang karena berfungsi sebagai tempat persinggahan. Inilah yang membuat kota-kota terhubung dalam satu jejaring yang memiliki jarak relatif konstan. Contohnya bisa terlihat pada Bumiayu, Pekalongan, Lasem (kalo ini juga didukung adanya pelabuhan yang representatif), dan Parakan. Hasil akhirnya, ya seperti sekarang ini.

Entah benar atau tidak hipotesis saya ini, yang jelas fakta menunjukkan demikian. Mungkin ada yang lebih benar, saya juga tidak tahu.

2 Comments

  1. Gus Tax said,

    July 21, 2009 at 11:45

    itu ada bukunya Nak, tapi aku lupa judulnya. Pernah dibahas di Kompas (klo tdk salah ingat). Ada kaitannya dengan logistik di jaman penjajahan. Jadi Kumpeni ama Jepun memang “membangun & mengembangkan” titik-titik persinggahan baru (yang kemudian jdi Kota) untuk keperluan loading logistik (amunisi, makanan, dll). Disana juga ada kalimat yang bunyinya kira2 begini: “Perencana jaman dulu aja dalam merencanakan Kota memikirkan ‘peri kehewanan’, bandingkan dengan perencana sekarang yang luput memperhitungkan alam.”
    oya, kalo Kota di daerah Pantai itu masuk kriteria ke berapa? kalo ndak masuk ketiga kriteria, ada baiknya ditambahin satu yaitu sebagai pintu masuk perdagangan (bukan semata2 persinggahan).

  2. semuayanggurih said,

    July 21, 2009 at 14:07

    for Gus Tax: iya Gus Tax, sampeyan benar. saya rasa itu juga bisa dimasukkan dalam kriteria pertama; jadi selain sebagai persimpangan, juga sebagai tempat pintu masuk perdagangan, yang otomatis menjadikannya sebagai tempat persinggahan. hanya saja, pintu masuk perdagangan ini merupakan “gift” dari Gusti Allah, dalam artian tidak semua tempat bisa menjadi pintu masuk perdagangan; hanya yang memiliki pantai yang teduh (biasanya berada di daerah teluk) saja yang bisa (seperti di Tegal, Semarang, dan Juwana). makasih masukannya, bisa nambahi perbendaharaan materi tulisan ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: