godaan gaji 8 juta

Waktu saya ikut diklat di Jogja, ada seorang teman peserta diklat yang kerja di Pemprov DKI Jakarta. Setelah ngobrol-ngobrol dan mengikuti proses diklat sekitar 2 minggu, saya ditawari untuk pindah jadi PNS di lingkup Pemprov DKI Jakarta. Iming-imingnya cukup menggiurkan: tahun 2010 gaji PNS di DKI Jakarta adalah 8 juta, karena remunerasi akan diterapkan. Tentu saja honor tim dan uang lembur menjadi hilang, tetapi itu tidak seberapa besarnya. Ah, jadi sedikit tergoda, apalagi Jakarta merupakan obsesi saya waktu masih kuliah dulu; bahkan sampai sekarang juga masih menjadi keinginan terpendam. Sempat terpikir juga, bila saya mau dan sedikit “nakal”, pendapatan yang bisa saya dapatkan pastilah akan jauh lebih besar (yup, dari ijin lokasi saja bisa puluhan juta rupiah).

Tetapi, ada beberapa pertimbangan juga yang menjadikan saya tidak bisa langsung mengatakan “ya”. Pertama adalah pikiran saya bahwa apakah kerja hanya mencari materi saja? Ok lah, pada saat baru lulus kuliah, pertimbangan utama adalah materi. Tetapi saat sekarang, dan saya juga mulai berpikir untuk keluarga, pertimbangan utama adalah kondisi yang mendukung pertumbuhan anak. Jakarta? Ah, ngeri membayangkannya. Pertimbangan kedua adalah karir. Di Jakarta, banyak PNS yang sudah S2, dan posisinya masih sebagai staf. Bukannya saya mencari jabatan, tetapi karir juga merupakan salahsatu tujuan kita bekerja, kan. Ketiga, adapatasi. Pindah kerja (dan tentu saja menghadapi lingkungan yang baru) akan membutuhkan adaptasi, dan adaptasi bukan masalah mudah serta meminta energi yang tidak sedikit. Keempat, macet dan banjir. Wah, kalo ini sih langganan; bisa-bisa saya tua di jalan, huhuhu… Kelima, mungkin ini alasan terkuat saya, adalah bila saya masih di kampung, pendapat saya masih didengarkan oleh para pengambil kebijakan. Memang bukan wewenang saya untuk mengambil kebijakan, tapi merupakan tugas utama saya untuk memberi pertimbangan secara logis mengenai isu yang akan diputuskan. Di Jakarta? Ah, rimba raya yang suara saya kemungkinan besar tidak akan didengar. Sedangkan di sini, di kampung, setidaknya saya bisa mengaplikasikan idealisme saya (yang mumpung masih ada) untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.

So, I say “no” for Jakarta today. Yet. But in the future, I don’t know. Change is inevitable, right? Perhaps I’ll change my mind, perhaps I won’t.

2 Comments

  1. Gus Tax said,

    July 15, 2009 at 10:19

    wah, wis mikir keluarga… ck..ck.. akhirnya!😛

    • semuayanggurih said,

      July 15, 2009 at 15:34

      haha, mikir ya jelas mikir mas. masa ora


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: