pdrb dan gap ekonomi

Saya sedang di Jogja sekarang. Ada pendidikan buat posisi fungsional perencana. Dua bulan, lumayan lama. Mulai dari Senin 13 April, sekarang baru minggu pertama. Jujur saja, tujuan pertama saya sebenarnya ingin refreshing, menghindari rutinitas kantor, dan mensucikan otak dari kewajiban spj, hehehe… Tapi setelah saya mengikuti materi, saya tahu bahwa saya tidak salah mengambil keputusan untuk ikut diklat ini. Banyak ilmu baru yang saya dapatkan. Benar-benar mencerahkan, membuat saya merasa bodoh (ah, setelah saya selesai kuliah dan masuk dalam birokrasi, kemampuan saya rasanya jauh menurun), sekaligus menggugah keinginan saya untuk sekolah lagi (yang sempat sedikit meredup karena kepindahan saya ke bidang yang sesuai background pendidikan) menjadi kembali berkobar. Dosen UGM (dalam waktu pelatihan yang baru seminggu) memang enak. Pinter dalam teori, dan juga menguasai dalam aplikasi di lapangan beserta contoh kasus. Semoga saja selama sisa waktu yang ada, dosen yang ngajar juga punya kualitas yang sama.

Minggu pertama kuliah, ada materi tentang PDRB. Ah, ini materi yang pernah saya tulis di sini, dan jadi kesempatan saya untuk bertanya lebih lanjut tentang ekonomi makro –yang entah menjadi obsesi saya, ataukah kutukan bagi saya, haha… Waktu saya tanyakan kepada pak Dosen tentang kegalauan saya mengenai pendekatan dalam perhitungan PDRB, akhirnya saya mendapat penjelasan yang mantap. So, begini penjelasannya. Ups, buat yang lama berkecimpung di bidang ekonomi makro, mohon dikoreksi yah, karena saya juga baru tertarik dalam ilmu ini dan belum sempat mendalaminya secara serius.

flow2So, ada dua pelaku utama dalam perekonomian; rumah tangga dan perusahaan. Awal semua kegiatan ekonomi adalah rumah tangga, karena menyediakan modal, tenaga kerja, lahan, dan kemampuan manajerial bagi berlangsungnya proses produksi. Oleh perusahaan, kontribusi dari rumah tangga tersebut diubah menjadi barang dan jasa. Hal ini menjadi dasar bagi penghitungan PDRB-berdasar-produksi. Barang dan jasa yang ada akan dimanfaatkan oleh masyarakat. Tidak gratis tentu saja, karena harus dibeli dengan pengeluaran konsumsi. Hal ini menjadi dasar bagi penghitungan PDRB-berdasar-pengeluaran. Perusahaan yang sudah mendapat uang dari pembelian masyarakat, akan memberikan balasan bagi rumah tangga dalam bentuk bunga, upah sewa, dan laba yang menjadi income. Hal ini menjadi dasar bagi penghitungan PDRB-berdasar-pendapatan. Asumsi yang digunakan adalah semua berjalan secara seimbang dan sempurna; semua modal yang disetor rumah tangga akan diubah menjadi barang dan jasa. Hasil produksi tersebut semua akan dibeli oleh masyarakat, dan pemasukan yang diperoleh dari perusahaan akan dikembalikan dalam bentuk income bagi masyarakat. Ini yang bikin PDRB yang diukur berdasarkan tiga cara pendekatan akan memiliki nilai yang sama. Ternyata cuma muter-muter aja yah.

Yang jadi masalah, di dunia nyata kan tidak seperti itu. Tidak semua produksi akan dibeli masyarakat (karena ada yang tidak laku, dan ada juga yang dijadikan sampel produk yang gratis), dan tidak semua pendapatan akan dikeluarkan sebagai konsumsi. Thus, seperti ada gap bahwa secara makro perekonomian baik-baik saja, tapi ternyata sektor riil tidak bergerak. Padahal, harusnya nilai PDRB dari ketiga pendekatan adalah sama besar, sehingga kondisi ekonomi makro akan sama dengan kondisi ekonomi mikro. Waktu saya tanyakan hal ini pada pak Dosen itu, jawabannya juga sama, karena pada dasarnya ekonomi makro adalah agregasi dari ekonomi mikro dalam suatu wilayah. Jadi, pasti ada yang salah. Bisa salah menghitung data PDRB, salah menentukan asumsi, kesalahan teknis proyeksi, dan data yang tidak valid sehingga semua perhitungan buyar. Mana yang terjadi di Indonesia, saya juga tidak tahu.

1 Comment

  1. wongggunung said,

    April 29, 2009 at 08:46

    yang terjadi di Indonesia ya jelas di sama2kan om seperti yang pernah aku bilang dulu. Pake pendekatan apapun pasti hasilnya akan sama. Daripada dikritik mendingan disama2kan. kok gak ditanya mengenai black market (pelacuran, selundupan, narkoba dll), kenapa gak diitung dalam PDRB?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: