pdrb

Mohon maaf bagi insan ekonomi, tapi saya baru tahu ternyata PDRB bisa diukur dari 3 pendekatan: pendapatan, pengeluaran, dan produksi (ah, goblok benar diriku). Dulu di jaman kuliah pasti saya pernah dapat pelajaran ini, tapi karena “kebencian” saya pada mata kuliah ekonomi (lihat di sini), pasti tidak memperhatikan, dan… itulah, saya baru merasa konyol dan bodoh pada saat ini. Ah, penyesalan pasti datangnya selalu terlambat.

Waktu saya tanya teman saya pendekatan apa yang dipakai di Indonesia, dia menjawab pendekatan produksi. Dan setelah saya pikir-pikir, rasanya kok aneh kalau pendekatan produksi yang dipakai. Ok, suatu produsen memproduksi suatu barang dan itu merupakan salahsatu indikator untuk menghitung perekonomian. Tetapi, kan tidak semua produksi itu laku. Tidak mungkin semua barang yang diproduksi habis; pasti ada yang tidak laku dan disimpan di gudang, apalagi dalam masa resesi dimana daya beli masyarakat merosot drastis. Bila yang digunakan adalah pendekatan produksi, bisa saja PDRB suatu daerah tinggi (karena produksi barang tinggi), padahal dalam kenyataannya sektor riil tidak berkembang karena jarang masyarakat yang membeli barang tersebut. Hasil produksi hanya disimpan sebagai stok, dan uang yang ada tidak berputar.

Akan lebih fair jika yang dipakai untuk menghitung PDRB adalah pendekatan pengeluaran, karena merupakan sektor yang benar-benar riil di masyarakat. Yang jadi masalah, banyak yang lebih suka pendapatan seseorang atau suatu lembaga menjadi rahasia pribadi dan tidak dipublikasikan kepada umum. Lagipula, perhitungan dengan pendekatan pengeluaran membutuhkan waktu yang sangat lama, sedangkan angka pertumbuhan ekonomi (baca: pertumbuhan PDRB), dibutuhkan hampir setiap saat. So, mana yang seharusnya dipakai untuk menghitung PDRB? Saya juga bingung. Mungkin sampeyan lebih mengetahui tentang hal ini ada punya saran yang bagus dan applicable.

Ada satu hal menarik lagi tentang PDRB. Ternyata angka PDRB (yang berkonotasi dengan pertumbuhan ekonomi) tidak selamanya benar. Kenapa? Karena PDRB hanya memperhitungkan sektor legal saja. Banyak sektor ilegal yang tidak diperhitungkan, seperti narkoba, judi, pelacuran; padahal sektor tersebut terkadang menyumbangkan pendapatan yang besar pada suatu daerah. Jadi, bila ada pendapat yang menyatakan bahwa PDRB suatu daerah rendah, jangan langsung digeneralisasi bahwa daerah tersebut miskin dan termarginalkan. Mungkin saja sektor riil yang ada justru berkembang dengan pesat karena didukung oleh sektor-sektor ilegal.

Hmmm… ternyata banyak yang tersembunyi dalam ekonomi. Saya bener-bener kuwalat karena dulu sempat membenci mata kuliah ini. Jadi, janganlah percaya angka yang ada dalam buku sampeyan, karena bisa saja itu menipu.

13 Comments

  1. taqi said,

    March 17, 2009 at 14:23

    Sampeyan masih inget pelajaran dasar ketika mau menyusun survey. Disana pasti ada hal yang berkaitan dengan Kategori Masyarakat: Atas-Menengah-Bawah. Bagaimana mendapatkan informasi ini, sementara masy Indonesia punya rasa “enggan” untuk berbagi berapa besar pendapatannya. Makanya, untuk menyiasati, bentuk pertanyaannya (dalam kuisioner), bukan: “Berapakah rata-rata penghasilan Anda sebulan?” tapi, “Berapakah rata-rata pengeluaran Anda sebulan.” Simple, tapi ini lebih bisa “memotret” kondisi riil.
    Dalam industri media dan ritel, istilah “perangkingan” ini dinamakan SES (Socio Economic Status), dasarnya adalah rata-rata pengeluaran rutin sebuah rumah tangga, seperti: air, lisitrik, BBM, makanan, kebutuhan harian, biaya sekolah dsb, di luar cicilan, misal: mobil, rumah, kartu kredit dsb.
    Jadi, benarlah adanya dirimu, dalam konteks PDRB di Indonesia, Pendekatan Pengeluaran (bisa jadi) lebih mendekati kebenaran dibandingkan Pendekatan Produksi….. haloo….waktu kuliah ekonomi ngapain aja?😀
    Poinnya, Om Waluyo, di negeri ini masih banyak data rilis resmi dari Pemerintah yang masih susah untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan karena banyak “lobang-nya.” Mungkin karena data tidak diperlakukan “dengan istimewa”, padahal data (yang benar) itu mahal Bung. Di industri media dan ritel, milyaran rupiah rela digelontorkan para produsen agar bisa mendapatkan potret konsumennya. Ato, kalo ga percaya, kau tengoklah itu, membanjirnya Lembaga Riset menjelang Pemilu? Uang yang berputar di sana, eM-eM-an Bung!
    Oh ya, sekali lagi, aku membuktikan aku bisa serius. Calon PEJABAT je. Hail Tay The Great!🙂

  2. piz said,

    March 21, 2009 at 18:39

    Nice! Postingan tobat yang ganteng. juga komentar yang tidak kalah ganteng. Saya jadi nambah ilmu. trimakasih.
    *nerusin baca freakonomics*

  3. taqi said,

    March 23, 2009 at 11:02

    nah, yg barusan posting, sukanya mas-mas ganteng, klop kan?🙂

  4. semuayanggurih said,

    March 23, 2009 at 12:10

    for taqi: ah, jadi ingat PN waktu studio majenang. dengan wajah sinis dan sikap meremehkan (f*** him…!!!) dia bilang “makanya, jangan tanya berapa pendapatan ibu itu. pasti gak bakal dikasih. tanyalah berapa pengeluarannya, dan itu bisa jadi dasar penghitungan pendapatan”. ternyata yang ginian ada nama ilmiahnya ya. rasanya perlu belajar banyak lagi ni. ngomongin tentang data… memang data masih jadi perdebatan yang hot. seharusnya BPS tu jadi standar penyediaan data, tapi nyatanya memang data dari BPS jarang yang valid. kalo pengen valid ya survei sendiri, tapi pasti butuh biaya, tenaga, dan waktu yang… (shit, susah ngomongnya) sulit banget. makanya dipake sistem sampling, tapi ini juga susah dibuktikan validitasnya, karena orang BPS tu kalo masalah data pelitnya naudzubillah. km bener mas taqi, data (yang valid) memang sangat mahal. jadi ingat waktu dulu masih kuliah dan dikasih job buat survei, trus banyak ndengkul data, huehehe… duh Gusti, nyuwun ngapuro…
    oya, ternyata nilai PDRB berdasar pendapatan, pengeluaran, dan produksi tu pasti selalu sama. dan harus selalu sama (entah kenapa, saya nggak tahu). ada satu poin dalam PDRB-berdasar-pengeluaran yang (menurut saya) menjadi poin karet; dalam artian untuk meng-klop-kan angka PDRB-berdasar-pengeluaran agar sama dengan angka PDRB-berdasar-produksi. bahkan ternyata data PDRB aja masih banyak dengkulannya (shit, lagi…). satu lagi mas taqi: jangan jadi pejabat. sulit. bisa pensiun tanpa dikejar2 kejaksaan aja udah untung, huahahaha… gak ding, cuma guyon… eniwei, komen-mu apik tenan bro.
    for piz: mulane, ayo daftar S2 ekonomi pembangunan aja, bareng aku…

  5. wonggunung said,

    March 25, 2009 at 07:47

    Wah kalo unit produksi lokalisasi masuk dalam perhitungan PDRB, nilai tambah Kabupaten Tegal pastinya akan meningkat, kan kita punya unit produksi lokalisasi yang cukup potensial seperti mangga dua (peleman), maribaya, karanggondang. Jangan2 setelah ditambah unit produksi yang satu itu pertumbuhan ekonomi Kabupaten Tegal jadi lebih cepat mungkin saja melebihi satu digit, suatu prestasi yang luar biasa om melebihi pertumbuhan nasional yang cuma dipatok 4% untuk 2009.

  6. masmpep said,

    March 27, 2009 at 10:01

    ada tiga jenis data di dunia: data akurat, data indonesia, data dempulan, he-he-he.

    semakin saya mempelajari data-data di indonesia, semakin saya tak percaya pada data. saya cenderung untuk mengabaikan data, sekarang. kemiskinan sekian persen, pertumbuhan sekian persen, saya tak percaya. apalagi data2 indeks. saya masih percaya data-data murni: berapa jumlah provinsi di indonesia, kabupaten, kota, jumlah camat. tapi kalo sudah dibuat indeks, saya tak percaya. tak percaya, ha-ha-ha.

  7. masmpep said,

    March 27, 2009 at 10:05

    kok wonggunung hapal sekali statistik prostitusi kita. jangan-jangan jadi korlapnya, ha-ha-ha.

    salam untuk ‘pangeran seda ing peleman’ a.k.a. mas anto ya, kalo maen ke sana.

  8. semuayanggurih said,

    March 28, 2009 at 10:51

    for masmpep: untuk direnungkan, padahal di bidangmu tu yang namanya kegiatan penyusunan database setiap tahun pasti ada, dan “kreatif banget” si pengusulnya, dalam artian selalu berbeda tema yang diangkat. nah, itu termasuk data yang valid atau didengkul alias proyek abal-abal, huahahaha… the output sucks indeed.

  9. masmpep said,

    March 28, 2009 at 19:23

    itu sebab terbesar mengapa saya tak percaya data (yang dibuat pemerintah)….

  10. taqi said,

    April 1, 2009 at 16:29

    Ini ada link untuk data statistik untuk indonesia dan negara lainnya:

    http://www.indexmundi.com/indonesia/

  11. Hasan Basril said,

    January 29, 2010 at 01:22

    maaf Mas…

    sepertinya mas harus meralat “orang BPS tu kalo masalah data pelitnya naudzubillah”…

    klo Mas dtg k BPS pasti akan dilayani sebaik-baiknya…

    DATA MENCERDASKAN BANGSA….

  12. semuayanggurih said,

    January 29, 2010 at 09:12

    mas Hasan, data yang dalam bentuk publikasi sih iya mas, semua terbuka untuk umum. yang saya maksud itu raw data, data mentah yang belum diolah. saya kadang butuh untuk mencermati metodologi yang digunakan, dan untuk mencari informasi lain yang kurang dapat ditemui dalam data yang sudah “jadi”. saya bekerja sebagai birokrat yang berhubungan langsung dengan BPS, tetapi untuk memperoleh raw data yang dimaksud, sangat sulit sekali. dosen-dosen saya dulu juga begitu, dan teman-teman birokrat di daerah lain juga sama saja. ah, tapi itu sih mungkin dulu ya mas. semoga sekarang tidak lagi. semoga…

    • Hasan Basril said,

      June 27, 2012 at 14:55

      untuk mendapatkan “raw data” memang ada prosedur tersendiri,dan dikenakan biaya,biaya tersebut namanya PNBP dan akan langsung disetor ke kas negara..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: