kuwalat ekonomi

Dulu, sejak saya SMA sampai lulus kuliah, mata pelajaran yang sangat benci adalah ekonomi. Mohon maaf untuk yang suka (bahkan mendalami) ilmu ini, tapi saya punya beberapa alasan untuk “kebencian” saya tersebut. Waktu saya SMA, pelajaran ekonomi dibagi menjadi 2: akuntansi dan ekonomi (makro tentu saja). Akuntansi tidak saya suka karena mboseni; cuma liat angka di atas kertas saja. Walaupun gurunya cakep, tetap tidak bisa membuat saya “bernafsu” untuk pelajaran ini. Apalagi pas nerangin mana saja yang masuk debet, dan mana saja yang masuk kredit. Bener-bener njelimet dan mengandalkan hafalan. Sedangkan ekonomi, saya males karena isinya cuma grafik aja; dan itu di atas kertas. Contoh kasus tidak ada, aplikasi di dunia nyata mengambang, pelajaran hanya sebatas teori. Waktu saya di universitas juga sami mawon; saya bosen melihat grafik yang, duh, rasanya semuanya sama walaupun gunanya beda. Ada supply-demand, koefisien gini, indeks williamson, dan entah apa lagi yang saya tidak paham cara ngitungnya, gunanya, apalagi aplikasinya. Udah gitu, dosennya juga sering absen ngajar, mungkin karena sibuk. Kompletlah sudah pengalaman saya selama 9 tahun berkutat dengan pelajaran ekonomi.

Tapi, sekarang, rasanya saya kuwalat dengan ilmu ekonomi, terutama ekonomi makro. Tentu saja, saya juga punya alasan dibalik pengkhianatan terhadap “kebencian” itu. Semuanya bermula dari obrolan saya dengan seorang teman; lulusan Magister Perencanaan Kebijakan Publik UI, bisa dikatakan S2-nya studi pembangunan. Menarik, membahas kebijakan yang akan diambil oleh pengambil keputusan di negara ini; apa yang melatarbelakangi, bagaimana proses lobi antara eksekutif dengan legislatif, dan prediksi ekses setelah kebijakan diterapkan. Bagi saya yang menyukai conspiracy theory, semua itu adalah hal yang luar biasa, menyenangkan, dan merupakan tantangan. Awesome…!!! Apalagi dari segi pengajar, sering diajar oleh para menteri sebagai pengambil kebijakan publik, bahkan pernah dikemukakan cerita yang off the record (yang saya sendiri tidak tahu, karena teman saya tidak mau cerita).

Pengkhianatan saya semakin mendapat pembenaran dari hati kecil setelah saya membaca buku John Perkins yang judulnya Confessions of an Economic Hitman. Buku yang luar biasa, dan menjadikan saya sadar bahwa pertumbuhan ekonomi adalah bukan segalanya. Dalam buku itu dikupas bagaimana negara disetir oleh perusahaan multinasional, cara menekan negara berkembang dengan statistik ekonomi yang dimanipulasi dan pemberian hutang yang luar biasa besar (bahkan melebihi kebutuhan), cara melobi para petinggi negara, bahkan menggulingkan petinggi negara yang dianggap tidak bisa bekerjasama. Ternyata negara kita sudah salah urus sejak orde baru dimulai di tahun 1967, dan sekarang kita yang menanggung getahnya. Suatu contoh nyata betapa pengambilan kebijakan publik yang salah akan berakibat sangat besar, bahkan hingga lintas generasi. Buku lain yang memberikan pemahaman betapa pentingnya ekonomi adalah buku karangan Kwik Kian Gie; ada dua buku yang mengupas KKN dan Kebijakan Ekonomi Politik. Bahkan walaupun bukunya (yang berisi kumpulan artikel) ditulis sekitar tahun 1999-2003, sampai sekarangpun masih relevan dengan kondisi negara.

Intinya, sekarang saya justru jatuh cinta pada ekonomi (makro). Kuwalat? Entahlah, mungkin bisa dikatakan begitu. Obsesi saya bahkan ingin melanjutkan sekolah (jika ada kesempatan) dengan mengambil konsentrasi pada bidang ekonomi pembangunan. Yah, saya kan juga ingin mendengar hal-hal yang off the record di balik pengambilan keputusan negara ini, hihi…

5 Comments

  1. piz said,

    January 9, 2009 at 09:23

    tertarik tapi bukan jodoh sepertinya….

  2. slawiharmoni said,

    January 10, 2009 at 08:31

    bukan off the record, semua orang udah tahu, para penggambil kebijakan udah tidak kita anggap lagi, biarkan mereka pada keangkuhan intelektual…..

  3. taqi said,

    January 12, 2009 at 12:20

    Economy? Love it Much (-much hota hai)😛
    off the record = katakanlah yang benar, tapi tidak semua yang benar itu harus dikatakan.

  4. semuayanggurih said,

    January 12, 2009 at 13:02

    fo taqi: maka dari itu, dalam panca prasetya korpri (sumpah jabatan PNS), ada kata-kata “selalu memegang teguh rahasia negara dan jabatan”. yup, pasal karet yang menjadi pembenar postinganmu itu. aneh? itulah birokrasi di indonesia…

  5. masmpep said,

    February 3, 2009 at 10:48

    masih ada kesempatan belajar ekonomi makro mas. berguru pada saya misalnya, ha-ha-ha. S.T., M.E. sip juga tuh. kalo s2 ambil M.E aja. minimal M.M lah…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: