lembur dan dprd yang menyebalkan

Menyebalkan. Menyebalkan sekali, karena waktu libur, kok malah disuruh lembur. Sucks… Tugas dari kantor memang tidak bisa ditolak. Meskipun seharusnya birokrasi juga ikut libur, tapi kenyataannya nggak tuh, karena dikejar target untuk membahas anggaran daerah.

Dan setiap rapat (baca: acara lembur kali ini) dengan DPRD pasti menjengkelkan. Inti rapat adalah membahas defisit anggaran yang terlalu banyak. Maksudnya sih, meminjam istilah Menteri Keuangan, sharing the pain alias berbagi beban. Karena duitnya kurang, maka otomatis jumlah kegiatan juga harus dikurangi. Dan itu berlaku untuk semua kegiatan: usulan dari eksekutif, usulan dari DPRD, dan proyek mercusuar yang menjadi hak prerogatif Kepala Daerah. Sayangnya, semua anggota Panitia Anggaran DPRD menolak usulan itu. Mereka sih setuju saja kalo kegiatan yang ada dikurangi, tapi dengan syarat kegiatan usulan mereka tidak diutik-utik. KEGIATAN USULAN MEREKA TIDAK DIUTIK-UTIK. Lah, ini sih tai kucing. Apanya yang sharing the pain, berbagi beban? Ini namanya egoisme yang keterlaluan.

Memang sih, kegiatan penganggaran daerah adalah kebijakan politik, jadi tidak heran kalo banyak hal-hal yang menyimpang (yah, sampeyan tahu sendiri politik di negeri ini bagaimana kan). Tapi mbok ya jangan seperti itu. Alasan dari anggota dewan yang terhormat sih karena ini tahun terakhir masa bakti, maka mereka ingin memberikan sesuatu yang lebih pada rakyat, pada konstituen. Sayangnya, ini dilakukan dengan mengorbankan kepentingan rakyat yang lain. Padahal, dengan terpilih sebagai anggota dewan, seharusnya mereka berfungsi sebagai wakil masyarakat dalam arti luas, bukan wakil partai, dan bukan pula wakil konstituen; yang berarti, menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Sakit. Sumpah, sakit hati ini rasanya. Kasihan rakyat kecil yang bekerja –benar-benar bekerja secara fisik, dengan jujur, bukan dengan jual omongan lalu dapat duit. Saya heran dengan para pejabat di negeri ini; apa semuanya seperti itu? Kalau begini, kapan Indonesia bisa maju? Ah, memang sulit mencari contoh pejabat yang baik sekarang, yang bekerja dengan hati, untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

2 Comments

  1. piz said,

    December 31, 2008 at 14:09

    we need the revolution, rite? mulai dari mana?

  2. semuayanggurih said,

    January 9, 2009 at 08:31

    for piz: menurut saya mulai dari pucuk pimpinan, karena pola pikir masyarakat indonesia masih hirarkis. saya sendiri kadang bingung, kalo mo berbuat yang rada ekstrim pasti dipandang sinis. ya itulah, karena posisi saya bukan di pucuk pengambil kebijakan, dan perintah saya jelas tidak mungkin diikuti karena saya tidak punya bawahan. saya cuma bisa mencoba untuk tidak larut dalam sistem, dan sedikit demi sedikit memperbaiki sistem yang ada. don’t fight the system, use it. bener kan?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: