melihat ke bawah

Sering sekali saya merasa tidak puas dengan keadaan saya yang sekarang, terutama dari segi materi. Bila saya bandingkan dengan teman-teman saya yang –katakanlah, satu angkatan dengan saya, maka yang keluar dari mulut saya hampir dipastikan adalah keluhan, kenapa saya kok masih belum mapan, sedangkan mereka sudah bisa menikmati gaji yang… aduhai.

Sampai suatu saat, suatu malam tepatnya, saya bertemu dengan seseorang yang mengubah definisi saya tentang kata “mapan”. Waktu itu, saat sedang mengantri membeli makan malam, lewat seorang bapak penjual air, mendorong gerobaknya, mungkin dalam perjalanan pulang ke rumah. Sontak hati saya terasa dingin, amat dingin, melihat betapa beratnya perjuangan si bapak untuk bekerja dan mencari uang untuk nafkah keluarganya. Sedangkan saya… yang setiap hari bekerja di dalam ruangan di bawah guyuran angin dingin AC, kok malah merasa tidak mapan. Astaghfirullah, duh Gusti, nyuwun ngapuro…

Saya jadi sadar, bahwa ukuran kemapanan bukanlah materi. Kekayaan itu diukur dari hati seseorang. Bila kita selalu melihat ke atas, yang ada hanyalah rasa kurang, kemrungsung kalo orang jawa bilang, keserakahan, iri hati, dan keluhan pada Gusti Allah. Tetapi kalau kita melihat ke bawah, maka akan terasa betapa banyak nikmat yang dikaruniakan Gusti Allah pada kita. Hati menjadi tenang, hilang rasa serakah, hilang iri hati, digantikan dengan rasa syukur pada Yang Kuasa. Memang, bekerja sekuat tenaga adalah wajib –toh, tidak ada salahnya bila itu membuat kita kaya secara materi kan? Namun, yang perlu diingat adalah agar kita selalu menerima hasil kerja kita dengan syukur. Janganlah menghalalkan segala cara untuk menambah materi duniawi. Masih banyak saudara-saudara kita yang tidak seberuntung kita. Sekali lagi, kekayaan diukur dari hati seseorang, bukan dari banyaknya harta. Seperti kata teman saya: bersyukurlah, selalu… (hatur nuhun mas taqi…)

3 Comments

  1. taqi said,

    November 24, 2008 at 15:15

    bersyukur adalah sebuah keniscayaan. itulah sebabnya setiap awal doa (dalam Islam, agama saya), selalu diawali dengan hamdalah, karena memang nikmat-Nya atas kita adalah tiada batas (jika kita mau bersyukur).

  2. semuayanggurih said,

    November 25, 2008 at 11:14

    for taqi: ayo dong, aktifin lagi blog-mu. tulisanmu apik kok, suer… bekas komting je… (apalagi gak lewat pilihan, tapi mengajukan diri, huahahaha…)

  3. pizka said,

    December 3, 2008 at 15:31

    Nyambut gawe kuwi sawang sinawang -ntah sapa yg pernah ngomong-


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: