anehnya orang indonesia… (atau anehnya saya?)

sebenarnya ini postingan saya di milis kuliah dulu. komentar teman2 anggota milis lucu2, dan ternyata sempat jadi topik yang cukup hot juga, hehe… saya juga tidak tahu apakah panjenengan merasa sesuai apa yang saya rasakan. ini postingan selengkapnya.

Ternyata orang Indonesia (secara umum, berdasarkan pendapat saya sih, yg mungkin rada subyektif) masih suka melihat orang dari penampilannya ya. Bukan apa-apa sih, cuma beberapa waktu yang lalu pernah ada yg komentar sama saya, “Di, kalo keluar mbok ya pake sandal yang bagus, udah jadi pegawe”. Maklum, saya biasa keluar pake sandal yg belel, masalahnya dipake enak, empuk, hehe… Pernah juga ada yang ngomentarin saya karena pake backpack ke tempat kerja. Aneh2 juga, kaya “Di, kura2 ninja-ne dicopot aja”, sama “Mas, kamu pake ginian ke kantor?” (dengan pandangan aneh yang setengah gak percaya). Kenapa ya, orang kalo kerja tu tas-nya diasosiasikan harus pake tas yg kotak (tau maksud saya kan? Yg biasa dipake pegawai-pegawai birokrasi itu…). Dulu juga waktu di Semarang waktu nyambi kerja di konsultan pernah dikomentari waktu saya ekspose pake sneakers sama backpack, “Di, lain kali mbok jangan pake gitu, soalnya kamu bukan berposisi sebagai mahasiswa, tapi konsultan”. Padahal menurut saya sih, yg penting tu hati sama otak, ya nggak? Gak masalah kalo ke kantor dengan gaya yg rada antik, yg penting nggak nglanggar aturan (memang gak ada aturan yg baku kok), sama kinerjanya bagus dan bisa dipertanggungjawabkan. Kadang saya ngerasa rada aneh juga. Apa ini tinggalan jaman kolonial yah? Buat temen2 yg udah kerja, pernah ngalamin kejadian yg mirip sama saya gak? Terutama yg di Jakarta tuh, buat perbandingan. Apa ini cuma terjadi di kota kecil aja (bahkan di Semarang juga kaya gitu lho), apa bisa dijadiin generalisasi di Indonesia, atau memang saya yang rada aneh…?

Sori kalo rada2 ngaco, hehe…

8 Comments

  1. dulgepuk71 said,

    November 20, 2008 at 09:34

    Sekedar komen
    memang pada umumnya setiap orang memandang suatu masalah ada hal terkecil pun dari sudut pandang dia. yang artinya dia menilai dengan parameter dia atau pengetahuan dan etika yang dia ketahui dan membumi dalam jiwanya.
    ada anekdot, yang mungkin sebagian orang tahu, tentang nashruddin hoja
    suatu ketika nashruddin, anaknya dan keledainya melintas di suadu desa.
    waktu itu anaknya naik keledai. sementara nashruddin jalan menuntun keledai. Seorang desa melihat dan mengomentari ” Anak yang nda tahu sopan-santun, masak bapaknya yang sudah tua dibiarkan berjalan”.

    menanggapi hal tersebut nashruddin kemudian naik keledainya, sementara anaknya yang menuntun keledai.
    pada desa berikutnya ada orang berkomentar lagi ” Orang tua yang tidak perhatian, masak anaknya kecapekan nuntun keledai sampai keringatan”

    kembali nashruddin menanggapi. Nashruddin dan anaknya berjalan sambil menuntun keledai.
    Pada desa berikutnya kembali dia mendengar orang berguman ” Bapak dan anak yang aneh, punya keledai nda ditunggangi”

    kembali kali yang sekian nashruddin menanggapi dengan dia dan anaknya menunggang keledai.
    pada desa selanjutnya dia mendengar orang berkata lagi ” Orang nda berperikehewanan, sudah keledainya kurus masih ditunggangi, berdua lagi!”

    nashruddin tetap berjalan dan kemudian dia dan anaknya yang menggendong keledainya.
    Pada desa selanjutnya ada aja orang berkomentar ” GILA kali ya…masak ada orang nggendong keledai?!”

    dari anekdot itu dapatlah dipetik hikmah bahwa setiap manusia memang akan menilai sesuatu sesuai dengan perspektifnya. maka akan sangat adillah jika kita “menghakimi” sesuatu dengan perspektif yang komprehensif. Setidaknya jika tidak, NO COMMENT AJAH!!!!
    Artinya: yang tahu kondisi “sesuatu” adalah “sesuatu” itu .
    (tapi kita tetap boleh berperspektif sediri kok, sebatas kemampuan kita)..
    For Atdi: Biarkan anjing menggonggong…nashruddin tetap berlalu.

  2. usma said,

    November 20, 2008 at 22:56

    ya tergantung persepsi orangnya ndiri boz, mereka tidak sadar kalo diamati

  3. slawiharmoni said,

    November 21, 2008 at 09:36

    om adi, tetaplah semangat selaku birokrat yaa

  4. semuayanggurih said,

    November 22, 2008 at 15:21

    for dulgepuk71 dan usma: semua memang relatif ya. thanx masukannya

    for slawiharmoni: semangat tu harus mas, memang kadang sulit buat stabil, tapi setidaknya saya akan selalu mencoba

  5. taqi said,

    November 24, 2008 at 15:36

    kata orang pinter barat sono: dont judge the book by its cover. tapi kalo kataku, sampeyan itu emang masuk spesies aneh. hahahahaha…

  6. rat_cut3 said,

    November 24, 2008 at 16:35

    yah, sesungguhnya itu-lah orang indonesia.
    Bukannya bersikap subjektif dan menilai sesuatu dari luar. tetapi ini masalah etis dan tidak etis di mata orang Indonesia.
    Di kebanyakan masyarakat Indonesia, penampilan seseorang adalah cerminan dari perilaku orang tersebut. ini sudah berlaku sejak zaman dahulu kala……..
    Emang sih peribahasa don’t judge the book by its cover sidah berlaku. Hanya masih banyaaaaaaaaaak orang Indonesia yang tampilan adalah cerminan dari kepribadian orang g bersangkutan. Contoh: pelajar yang nakal selalu berpenampilan tidak rapi. Orang malas selalu berpenampilan mengantuk.

    Lah, kalo keluar pake sendal jepit (apalgi kalo pergi ke tempat yg “agak formal” gitu orang jadi ilfeel kan (^_^)
    Tapi aku setuju kok kalo Om Adi tetep pake tas yang bukan tas kotak gitu, mumpung masih muda (begitu kata ibuku) ^_^

    Maaf nih baru kasih coment, repotnya ngurusi website turun-temurun di ekstra sekolah buat aku lumayan sibuk…..

  7. piz said,

    November 28, 2008 at 11:29

    penampilan jugak penting bro! kalo gak gitu gak bakal ada ilmu ‘disain produk’😀 sebagai contoh nyata, fans saya tambah banyak setelah saya sedikit naik tingkat dari berpenampilan dekil. mwahahahahahah……

  8. masmpep said,

    November 29, 2008 at 20:36

    mochtar lubis pernah menyampaikan orasinya yang dikenang hingga kini di taman ismail marzuki tahun 1972 soal ‘mentaliteit bangsa indonesia’ yang kemudian menjadi rujukan ilmuwan sosiologi, dan antropologi indonesia. padahal orasi mochtar lubis tak memenuhi persyaratan metodologis sebagai konsepsi yang layak dijadikan referensi–meski isinya relevan.

    sewaktu kuliah saya sempat terinspirasi gerakan-gerakan antikemapanan: kaos hitam (hitam lambang perlawanan dan keteguhan hati), celana jeans (jeans adalah celana pekerja kasar di amerika awalnya. sehingga jeans adalah celana proletar sedunia), sandal (gunung) jepit (kalo ini sok-sok mapala), bag cover (kalo ini sok-sok ‘peneliti lapangan’), dan rambut gondrong (penginnya meniru-niru kaum hippies, tapi jadinya malah seperti edi brokoli).

    namun ternyata saya agak percaya kini: bahwa ajining diri ana ing busana (kira-kira begitu. lupa kalimat aslinya). di barat, kalau mau menonton teater, kita tidak boleh pakai kaos, sendal jepit, dan mengaktifkan handphone. jadi, berpakaianlah sesuai tempatnya. bila memungkinkan di komunitas ‘anak muda’, bolehlah menjadi bohemian (lagi).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: