post-match report: midterm exam and final exam

Saya sedang sekolah sekarang, melanjutkan studi saya di jurusan ekonomi pembangunan. Background pendidikan saya adalah perencanaan wilayah dan kota (PWK), dan jurusan ekonomi pembangunan ini benar-benar membat saya puyeng. Benar, di PWK memang ada mata kuliah yang berkaitan dengan ekonomi pembangunan (cukup banyak malah), tetapi saya tidak suka dengan pelajarannya (bahkan bisa dikatakan benci, hehe…). Mungkin ini balasan karena dulu benci (atau justru kesempatan kedua untuk bisa lebih memahami pelajaran yang tidak saya mengerti) mata kuliah ekonomi, dan saya mencoba untuk menikmati “siksaan” pelajaran yang tidak begitu saya pahami ini. Tak apalah, dulu saya juga yang memilih jurusan ini, jadi saya juga sudah siap dengan segala konsekuensinya.

Nah, minggu kemarin saya baru selesai ujian. Jadi sudah sedikit tenang sekarang; setidaknya satu trimester telah dilewati. Entah hasilnya apa, tetapi saya puas karena saya telah melakukan yang terbaik yang saya bisa. Untuk sedikit me-review kembali hasil pengerjaan ujian saya dan beberapa teman kuliah (bukan hasil ujiannya lho, karena seringkali hasilnya tidak dibagikan), nikmati tulisan berikut. Read the rest of this entry »

persiapan ujian: abu merapi + migrain

Ah, memang sudah digariskan Merapi meletus mungkin, sehingga persiapan ujian mid semester kali ini dihiasi dengan abu. Tebal juga, sekitar 1 cm (di kos saya yang lokasinya di sekitar Monumen Jogja Kembali, cukup jauh dari puncak). Itu sudah membuat repot dalam membersihkan, apalagi bagi warga yang tinggalnya dekat dengan puncak. Yah, semoga hajat Merapi ini cepat selesai. Read the rest of this entry »

bse

Alias buku sekolah elektronik. Sebenarnya ini kebijakan dari pemerintah pusat yang sangat baik. Sayangnya, karena kurang didukung oleh pemerintah daerah, hasilnya justru cenderung sia-sia dan tetap menimbulkan biaya ekternalitas yang seharusnya bisa ditekan (yup, iklan sekolah gratis ada di mana-mana hanya sekedar utopia saja).

Saya hanya bisa berandai-andai. Anggaran pendidikan kan sekarang besar, 20% dari total anggaran. Hanya saja, penggunaannya masih “jorok”, belum menikam pada permasalahan. Sebagai contoh, banyak yang justru digunakan untuk honor pegawai dan pembelian kendaraan dinas. Lah, memangnya yang harus dicerdaskan tu pegawai apa muridnya?

Akan lebih baik bila anggaran yang “tersisa” itu digunakan untuk mencetak buku sekolah elektronik. Read the rest of this entry »

polemik zonasi

Dalam hirarki rencana tata ruang di lingkup kabupaten, terdapat dua jenis rencana tata ruang yaitu rencana umum dan rencana rinci. Rencana umum biasanya dijabarkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten, sedangkan rencana rinci merupakan penjabaran dari rencana umum dan biasanya mewujud dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota (UU 26/2007 tentang Penataan Ruang). Setiap rencana tata ruang mempunyai tujuan dan lingkup aplikasi sendiri. Materi teknis RTRW lebih condong pada arahan pola ruang dan struktur ruang untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, sedangkan materi teknis RDTR lebih condong pada penetapan zonasi untuk mengatur peruntukan lahan pada suatu kawasan. Dengan demikian, dalam hal perijinan lokasi, RDTR lebih aplikatif untuk dipakai sebagai acuan. Read the rest of this entry »

endogenous condition sebagai prasyarat pengembangan investasi

Di Kabupaten Tegal, sudah beberapa tahun ini sangat jarang investasi (khususnya di bidang industri melalui investasi langsung) yang masuk. Entah apa penyebabnya, padahal lokasi Kabupaten Tegal relatif strategis dan masih mempunyai cadangan lahan kosong (vacant land) yang luas. Ditunjang dengan jumlah penduduk yang besar yang merupakan potensi ketersediaan tenaga kerja, maka seharusnya Kabupaten Tegal merupakan daerah yang dituju investor untuk menanamkan modalnya. So, kenapa malah jarang ada investor yang masuk? Pasti ada sesuatu yang salah, khususnya dari sisi Pemkab sebagai regulator (pengarah) dan enabler (pemberdaya) dalam pembangunan wilayahnya. Read the rest of this entry »

rebutan (calon) PTN

Di daerah saya ada satu universitas swasta, namanya Universitas Panca Sakti, biasanya disingkat UPS. Lebih hebat dari Trisakti lho. Kenapa, ya karena Trisakti kan tri, cuma tiga; sedangkan Panca Sakti kan panca, jadi lima deh, hehehe… OK, enough for the joke, sekarang saatnya yang beneran.

Ada wacana bahwa UPS mau jadi universitas negeri, dan syarat untuk itu adalah minimal luas kompleks kampusnya 30 hektar. Selama ini, luasan yang dimiliki hanya kurang dari 4 hektar, jadi masih banyak kekurangan. Nah, dengan statusnya sebagai (calon) PTN, maka UPS jadi seperti gadis cantik bunga desa yang menarik minat untuk dipinang. Setidaknya ada tiga pemerintah daerah yang berminat untuk meminang UPS: Pemkot Tegal, Pemkot Brebes, dan Pemkab Tegal. Semuanya sangat bernafsu, karena daya ungkit PTN yang sangat besar. Banyak dampak ikutan yang terjadi bila suatu daerah memiliki PTN, karena jangkauannya yang memiliki lingkup nasional. Bisa dipastikan ekonomi kawasan akan berkembang, setidaknya dari penyediaan tempat kos, jasa (rumah makan, rental komputer, warnet, dan jasa pelengkap lain), dan perdagangan yang pada akhirnya akan menjadi generator pertumbuhan. Bisa dikatakan, PTN merupakan suatu growth pole yang akan menggerakkan sektor ikutan lain, tanpa pemerintah perlu melakukan intervensi langsung untuk menggerakkannya.  Read the rest of this entry »

komunitas pedagang kaki lima

Sampeyan tahu pedagang kaki lima yang sering ada di keramaian-keramaian itu kan? Yang jualan macem-macem itu; dari martabak telur, pisang molen, mainan anak-anak, arum manis, dvd bajakan, sampai kaos sablon dan bantal-guling. Saya tahu bahwa mereka ikut dimanapun ada keramaian. Yang saya baru tahu, ternyata di Tegal (menurut cerita seorang teman) ada paguyuban komunitas pedagang kaki lima tersebut; di daerah Kramat, tepatnya saya belum mengerti di mana. Komunitasnya terorganisir dengan baik. Ada yang bertugas mencari rencana acara keramaian (seperti rencana pelantikan Kepala Desa, acara hajatan, dan acara pasar malam), ada yang tugasnya survei awal lokasi, dan ada yang sebagai pengurus harian. Read the rest of this entry »

pelayanan prima

Saya seorang birokrat, dan bekerja dalam kultur birokrasi. Banyak orang yang berpandangan bahwa kinerja birokrasi bobrok; dan saya juga mengakui hal itu. Banyak komplain yang mengemukakan bahwa pelayanan yang diberikan tidak prima, padahal tugas utama birokrasi adalah melayani masyarakat. Pelayanan prima hanyalah slogan, dan sering tidak tepat sasaran. Thus, pokoknya banyak lah keluhan yang ada. Saya jadi berpikir, bisa tidak sih, birokrasi memberikan pelayanan yang (yah, setidaknya mendekati) prima pada masyarakat? Apa kerja birokrasi hanya rutinitas saja, dan formalitas untuk membuat SPJ? Read the rest of this entry »

godaan gaji 8 juta

Waktu saya ikut diklat di Jogja, ada seorang teman peserta diklat yang kerja di Pemprov DKI Jakarta. Setelah ngobrol-ngobrol dan mengikuti proses diklat sekitar 2 minggu, saya ditawari untuk pindah jadi PNS di lingkup Pemprov DKI Jakarta. Iming-imingnya cukup menggiurkan: tahun 2010 gaji PNS di DKI Jakarta adalah 8 juta, Read the rest of this entry »

pdrb hijau

PDRB jenis apalagi ini? Saya juga bingung waktu pertama kali mendengar tentang pdrb hijau, dari seorang teman (teman kuliah dulu) yang bertugas di bappeda brebes. Dia habis ikut pelatihan tentang PDRB jenis ini. Penasaran, saya lalu coba ngangsu kawruh ke dia.

Intinya, PDRB hijau adalah dana yang (potensial) didapat atau dikeluarkan bila suatu aktivitas dilakukan. Konsep ini berkaitan erat dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan. Read the rest of this entry »

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.