Kapitalisme telah datang, dan kita harus menghadapi hal tersebut, siap ataupun tidak. Dalam masa globalisasi, akan terbentuk dunia versi baru yang tanpa batas. Semua sumberdaya akan terdistribusi dan bersaing secara global tanpa adanya batas yang nyata. Contoh dalam skala mikro adalah otonomi daerah, yang sering dipandang sebagai pembenar ego daerah dalam bentuk chauvinisme; sedangkan dalam skala yang lebih luas adalah penerapan CAFTA (Cina – ASEAN Free Trade Agreement) mulai 1 Januari 2010. Konsekuensi yang harus dihadapi adalah dengan ikut ambil bagian dalam perputaran peristiwa yang ada. Semua pihak harus beradaptasi tanpa kecuali, baik swasta, masyarakat, maupun pemerintah. Sayangnya, globalisasi seringkali hanya menguntungkan pihak yang kuat dan akan membunuh pihak yang lemah, seperti yang dikemukakan oleh Stiglitz. Hal ini diperparah dengan fakta bahwa kita tidak bisa menolak globalisasi; kita adalah bagian dari sistem yang lebih luas, dan akan ikut bergerak seiring dengan bergeraknya sistem tersebut. Jadi, apakah kita akan tergilas dan mati oleh globalisasi? Tentu saja tidak, asalkan kita bisa adaptif dan membuat globalisasi menjadi menguntungkan untuk kita. Don’t fight the system; use it.
Globalisasi identik dengan kapitalisme, sedangkan kapitalisme adalah sifat dasar manusia untuk mencari keuntungan dan kesejahteraan sebesar-besarnya untuk diri mereka sendiri. Bisa dikatakan, selama ada manusia, maka akan selalu ada kapitalisme. Dalam kenyataannya, hampir semua motif perilaku manusia yang ada di dunia bertujuan pada kapitalisme. Sebuah diskusi bahkan pernah menyimpulkan (dengan seloroh) bahwa kapitalisme adalah ciptaan Tuhan; kesimpulan yang (sepertinya) lucu dan dangkal, tapi mengandung makna yang sangat dalam. Read the rest of this entry »
Di kantor saya ada warung kejujuran, seperti postingan saya di